Ancaman Krisis Energi Global di Depan Mata, Harga Minyak Bisa Tembus Rp2,5 Juta per Barel

2 days ago 5

Minggu, 8 Maret 2026 - 14:10 WIB

Jakarta, VIVA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut membuat pelaku pasar khawatir terhadap kelangsungan pasokan minyak dan gas dunia.

Wilayah Timur Tengah selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia. Gangguan kecil saja pada rantai pasok energi di kawasan ini dapat memicu lonjakan harga minyak global. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri energi, tetapi juga oleh masyarakat luas melalui kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga harga pangan dan barang impor.

Kekhawatiran tersebut meningkat setelah Menteri Energi Qatar memperingatkan potensi penghentian produksi energi di kawasan Teluk dalam waktu dekat jika konflik terus berlanjut.

Harga minyak mentah Brent pun langsung melonjak lebih dari 9 persen pada Jumat kemarin. Harga tersebut menembus US$93 per barel atau setara sekitar Rp1.562.400 (asumsi kurs Rp16.800). Angka ini menjadi level tertinggi sejak musim gugur 2023 atau lebih dari dua tahun terakhir.

Peringatan keras datang dari Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi yang menilai konflik di Timur Tengah berpotensi mengguncang perekonomian global.

Ia mengatakan jika perang terus berlangsung selama beberapa minggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. "Jika perang ini berlanjut selama beberapa minggu, pertumbuhan PDB di seluruh dunia akan terdampak," ujarnya, seperti dikutip dari BBC, Minggu, 8 Maret 2026.

"Harga energi semua orang akan meningkat. Akan ada kekurangan beberapa produk dan akan terjadi reaksi berantai dari pabrik-pabrik yang tidak dapat memasok," sambungnya. 

Menurutnya, jika konflik dengan Iran terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan, harga minyak dunia bahkan berpotensi melonjak hingga US$150 per barel atau setara sekitar Rp2.520.000.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kenaikan harga minyak biasanya memiliki efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi. Selain meningkatkan biaya bahan bakar kendaraan, harga energi yang tinggi juga dapat memicu kenaikan biaya produksi, transportasi, dan distribusi barang.

Beberapa negara bahkan mulai merasakan dampaknya. Di Inggris misalnya, harga bensin dan solar dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir dan mencapai level tertinggi dalam 16 bulan.

Halaman Selanjutnya

Para analis menilai situasi saat ini berpotensi menimbulkan tekanan serius terhadap ekonomi global, terutama jika konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |