Asap Karhutla Kalimantan Capai Filipina Picu Kekhawatiran, Warga Diimbau Pakai Masker N95

1 week ago 21

Kamis, 3 September 2026 - 13:00 WIB

VIVA –Asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari Indonesia terbawa angin hingga mencapai Manila, Filipina, pada Selasa. Untuk diketahui, jarak kebakaran yang menjadi sumber asap itu hampir 2.000 kilometer dari Manila. 

Kondisi ini membuat kualitas udara di sejumlah wilayah ibu kota Filipina memburuk dan memicu kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat. Kabut asap tersebut juga kembali mengingatkan pada masalah kabut asap lintas batas yang kerap terjadi di kawasan Asia Tenggara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir laman SCMP, Kamis 3 September 2026, kabut asap yang terbawa angin dari arah barat daya dan berasal dari kebakaran di Kalimantan, membuat para ahli kesehatan mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker N95 saat beraktivitas di luar ruangan. Imbauan tersebut dikeluarkan setelah kualitas udara memburuk di sejumlah wilayah Metro Manila.

Di beberapa wilayah ibu kota, indeks kualitas udara mencapai level sangat tidak sehat, demikian peringatan Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina pada Minggu berdasarkan hasil pemantauan sejumlah stasiun pengukur kualitas udara.

Peringatan tersebut membuat Quezon City, salah satu wilayah di kawasan ibu kota Filipina, menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah.

Fisikawan atmosfer Filipina, Gerry Bagtasa mengatakan kepada ABS-CBN bahwa kabut asap tersebut berbahaya karena mengandung partikel-partikel sangat kecil yang terbawa angin dari arah barat daya. Berdasarkan citra satelit, Bagtasa mengatakan polutan tersebut berasal dari kebakaran hutan yang semakin meluas di wilayah Kalimantan bagian barat dan selatan.

Meski jarak Kalimantan dengan Manila sekitar 1.939 kilometer, Bagtasa menjelaskan bahwa dua topan yang berada di sebelah timur Taiwan dan selatan Hong Kong, ditambah fenomena El Nino yang sedang berlangsung, memperkuat angin muson barat daya atau Habagat yang biasanya terjadi pada periode ini.

"Dua topan dan El Nino ini menarik angin Habagat, sekaligus membawa emisi dari kebakaran di Kalimantan," kata Bagtasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagtasa memperkirakan kabut asap masih akan bertahan hingga akhir pekan, tergantung pada perubahan arah angin.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sering dipicu oleh kombinasi cuaca kering, kondisi lahan gambut, serta praktik pembukaan lahan. Ketika arah angin berubah secara musiman, asap dari kebakaran besar dapat terbawa hingga melintasi batas negara.

Halaman Selanjutnya

Menurut Bagtasa, terakhir kali Filipina terdampak kabut asap dari Indonesia adalah pada 2015, ketika fenomena El Nino juga terjadi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |