Senin, 7 September 2026 - 00:09 WIB
Kuala Lumpur, VIVA – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, tantangan yang dihadapi seluruh dunia saat ini semakin kompleks, dengan konflik yang berkaitan dan lintas batas, sehingga menurutnya, dunia harus membangun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2.0 yang baru.
"Kita membutuhkan lembaga global yang lebih kuat, mediasi global yang lebih kuat, dan diplomasi global yang lebih kuat untuk menjaga perdamaian. Sekarang, kita harus bergerak melampaui Perserikatan Bangsa-Bangsa edisi lama dan membangun edisi baru, Perserikatan Bangsa-Bangsa 2.0 yang baru," kata Jokowi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hal tersebut disampaikan Joko Widodo dalam pidatonya di acara Penang Peace Dialogue (Dialog Perdamaian Penang) yang diselenggarakan di Penang, Malaysia, Minggu.
Dia mengatakan saat ini tantangan yang dihadapi dunia semakin kompleks. Konflik saling berkaitan, dan dampaknya melintasi batas negara.
Oleh karena itu, menurutnya, PBB harus berubah dan mendefinisikan kembali sistem, proses, dan strategi untuk bekerja lebih baik, guna mewujudkan dunia yang lebih baik dan menjadi lebih relevan.
"Karena kemakmuran yang berkelanjutan hanya dapat dicapai ketika setiap negara memilih perdamaian daripada konflik. Kerja sama daripada persaingan dan kolaborasi daripada perpecahan," jelasnya.
Jokowi menyampaikan bahwa tidak ada negara yang dapat berhasil sendirian, tidak ada bangsa yang dapat makmur dalam konflik, dan tidak ada perdamaian yang dapat dibangun tanpa kepercayaan.
Di bagian lain dia juga menyebut Asia Tenggara telah menjadi lebih dari sekadar kawasan yang beragam, melainkan juga telah menjadi contoh nyata tentang bagaimana peradaban dapat hidup berdampingan, belajar satu sama lain, dan tumbuh bersama.
Jokowi menyebut, dalam banyak hal Asia Tenggara merupakan model penting kolaborasi antarperadaban dalam dunia multipolar.
"Di sini (Asia Tenggara), perbedaan bukanlah penghalang. Perbedaan adalah jembatan menuju pemahaman, kerja sama, dan kemajuan bersama," katanya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Oleh sebab itu dia menyerukan bahwa nilai-nilai yang sama juga seharusnya menjadi pedoman bagi negara-negara maju.
Jokowi mengingatkan bahwa kebesaran negara maju tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi, kekuatan ekonomi, atau pengaruh politik, tetapi juga dari tanggung jawab, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk menciptakan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama.
Halaman Selanjutnya
"Negara-negara maju tidak boleh hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Mereka harus memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk membangun kepercayaan, memperkuat kerja sama, dan membantu menciptakan dunia yang lebih damai," ujar Jokowi.

1 week ago
17













