Bos BI Destry Pastikan Likuiditas Perbankan Tersedia, Ada Tapinya...

1 week ago 22

Kamis, 3 September 2026 - 14:47 WIB

Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan ikuiditas perbankan secara umum tetap tersedia saat ini. namun persebarannya belum merata sebagaimana tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) antarbank yang bervariasi.

Secara umum, Destry menjelaskan bahwa kondisi likuiditas yang memadai tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang masih cukup baik, yakni berada di kisaran 23-24 persen secara industri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Likuiditas itu sebenarnya ada. Tapi tinggal sekarang kalau kita bicara likuiditas, penyebarannya merata atau tidak,” kata Destry dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, di Jakarta, Kamis.

Selain itu, kondisi likuiditas juga tercermin dari suku bunga di pasar IndONIA. Ia menjelaskan, IndONIA yang merupakan suku bunga overnight di Pasar Uang Antarbank (PUAB) sempat mencapai level tertinggi 6,5 persen, kemudian turun menjadi 5,9 persen, dan saat ini sedikit meningkat ke kisaran 6 persen. Meski demikian, level tersebut masih lebih rendah dibandingkan peak level sebelumnya.

Destry menambahkan, kondisi likuiditas juga dapat dilihat dari perkembangan uang beredar atau M0 (base money). Terkait hal ini, BI terus berkoordinasi erat dengan Menteri Keuangan untuk memastikan M0 tetap tumbuh dua digit.

Untuk melihat apakah penyebaran likuiditas telah merata, BI terlebih dahulu melihat kondisi likuiditas masing-masing bank serta bagaimana likuiditas tersebut dimanfaatkan. Salah satu indikator yang ditinjau adalah LDR masing-masing bank.

Ia menjelaskan bahwa bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) saat ini memiliki LDR yang relatif tinggi, karena pertumbuhan kredit pada kelompok bank tersebut cukup besar.

“Kalau kita lihat, LDR bank-bank itu tidak merata. Jadi artinya di sini kita lihat likuiditas yang ada di industri itu segmented, jadi tidak terdistribusi secara merata,” kata Destry.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia mengatakan pula bahwa pertumbuhan kredit pada Juli 2026 telah mencapai 13,6 persen, sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tercatat 11,21 persen. Kondisi tersebut menunjukkan adanya gap antara pertumbuhan kredit dan DPK.

“Kalau sebelumnya di periode sebelumnya, DPK itu selalu tumbuh di atas kredit. Tapi belakangan kredit itu sudah tumbuh melebihi DPK,” kata Destry.

Halaman Selanjutnya

Menurutnya, BI terus memperhatikan bank-bank yang pertumbuhan kreditnya lebih cepat, termasuk bank yang mengalami penurunan DPK. Pemantauan tersebut dilakukan secara lebih granular untuk melihat kondisi likuiditas masing-masing bank.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |