Bos BI Pede Ekonomi RI Kuartal I-2026 Bakal Meroket, Simak Indikatornya

2 weeks ago 6

Jumat, 20 Februari 2026 - 03:00 WIB

Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memproyeksi, pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi bakal berlanjut pada kuartal I-2026, ditopang oleh meningkatnya konsumsi imbas beragam stimulus dari pemerintah hingga longgarnya kebijakan moneter.

Terlebih, dalam periode tiga bulan pertama di 2025 terdapat berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yang diyakini bisa mendorong peningkatan kegiatan ekonomi seperti misalnya Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I masih akan tetap tinggi," kata Perry dalam telekonferensi pers, Kamis, 19 Februari 2026.

Gubernur BI, Perry Warjiyo

Photo :

  • [tangkapan layar]

Dia menambahkan, sektor investasi diprakirakan juga bakal tumbuh lebih tinggi, didorong oleh investasi pemerintah. Antara lain termasuk hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), serta perbaikan keyakinan pelaku usaha yang masih berlanjut.

Di samping program yang mendorong sektor riil dan hilirisasi, Perry juga meyakini program-program pemerintah untuk kesejahteraan dan pembangunan manusia seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan sejumlah program lainnya juga akan turut mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Kami bersinergi dengan Pak Menteri Keuangan untuk mendorong sektor riil, baik melalui stimulus fiskal maupun dari kami (moneter) melalui berbagai insentif dan dukungan likuiditas, serta bersama-sama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry.

Dari lanskap global, Perry menyampaikan bahwa prospek perekonomian global dalam tren melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan melambat dari 3,3 persen pada 2025 menjadi 3,2 persen, dibarengi dengan divergensi pertumbuhan antarnegara.

Prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global terutama dipengaruhi oleh dampak tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan berlanjutnya tensi geopolitik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kecuali perekonomian AS yang diprakirakan bakal meningkat, karena dipengaruhi oleh besarnya stimulus fiskal dan tingginya investasi, termasuk investasi terkait artificial intelligence (AI).

“Ke depan, ketidakpastian perekonomian global diprakirakan tetap tinggi sehingga memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan, untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi," ujarnya.

Pjs Ketua dan Wakil Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi

OJK Kasih Bukti Kontribusi Sektor Keuangan ke Perekonomian Terus Meningkat

OJK mengungkapkan, sektor jasa keuangan membukukan pertumbuhan yang tinggi sebesar 7,92 persen (yoy) di kwartal IV- 2025 atau mencatat laju tertinggi sejak Juni 2021.

img_title

VIVA.co.id

19 Februari 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |