Bukan Sekadar Bau, Ini Dampak Besar Sampah Organik bagi Lingkungan

2 weeks ago 4

Senin, 25 Mei 2026 - 11:35 WIB

Jakarta, VIVA – Masalah sampah organik kini menjadi salah satu tantangan lingkungan yang semakin mendesak di berbagai kota besar. Selama ini, banyak orang menganggap sisa makanan, limbah dapur, hingga dedaunan hanya menimbulkan bau tak sedap ketika menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, dampaknya jauh lebih besar dan berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan hingga perubahan iklim.

Sampah organik yang tidak dikelola dengan baik dapat menghasilkan gas metana saat membusuk di tumpukan sampah. Gas tersebut dikenal memiliki dampak besar terhadap pemanasan global. Selain itu, penumpukan sampah organik juga memicu pencemaran air tanah, meningkatkan risiko munculnya penyakit, hingga memperburuk kualitas udara di sekitar kawasan TPA.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, meningkatnya volume sampah rumah tangga turut memperberat beban pengelolaan lingkungan di perkotaan. Kebiasaan membuang sisa makanan tanpa memilah sampah masih menjadi persoalan yang banyak ditemukan di masyarakat. Padahal, langkah sederhana seperti pemilahan sampah dari rumah dinilai dapat membantu mengurangi timbunan limbah organik secara signifikan.

Kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik pun mulai menjadi perhatian banyak pihak. Tidak hanya soal menjaga kebersihan lingkungan, pengelolaan limbah kini juga berkaitan dengan upaya menciptakan sistem kota yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa penanganan sampah organik kini menjadi prioritas dalam ambisi iklim nasional. Dengan komposisi sampah di TPA yang mencapai 63 persen material organik, potensi emisi metana Indonesia diperkirakan menyentuh angka 21 juta ton CO₂e.

Menurut Jumhur, pengelolaan sampah tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan kebersihan semata. Persoalan limbah kini telah menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Pengelolaan sampah bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan pilar krusial dalam aksi iklim kita. Melalui proyek AKCMM ini, Indonesia berkomitmen untuk menghubungkan solusi praktis di lapangan dengan target penurunan emisi metana yang ambisius. Kami mengapresiasi dukungan Korea dan ASEAN dalam memperkuat sistem manajemen limbah yang lebih hijau dan berkelanjutan," ujar Menteri Jumhur, dalam keterangannya.

Keseriusan dalam menangani persoalan sampah organik juga terlihat melalui berbagai kolaborasi internasional. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), bersama Pemerintah Republik Korea dan Global Green Growth Institute (GGGI), secara resmi meluncurkan proyek ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM).

Halaman Selanjutnya

Program ini diharapkan mampu mendorong sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan terukur, terutama di kota-kota besar yang menghadapi persoalan timbunan sampah setiap hari.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |