Rabu, 2 September 2026 - 22:16 WIB
VIVA – Banjir dahsyat yang melanda Gyirong atau Kyirong, Tibet, menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar. Di tengah operasi pencarian korban, informasi mengenai bencana tersebut justru dinilai sulit diperoleh secara independen karena ketatnya pengawasan pemerintah China di wilayah Tibet.
Empat hari setelah bencana, otoritas China menyebut 546 orang masih belum ditemukan. Sebanyak 261 di antaranya merupakan warga negara asing dari 23 negara. Jumlah korban meninggal di Tibet juga bertambah dari tujuh menjadi 16 orang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bencana tersebut bermula dari longsoran es di wilayah Nepal. Di negara tetangga itu, jumlah korban tewas telah mencapai 781 orang, sementara 2.502 lainnya masih dinyatakan hilang, seperti melansir dari El Pais.
Wilayah terdampak berada di kawasan Himalaya yang memiliki medan ekstrem. Tim penyelamat harus melewati jalur pegunungan sepanjang lebih dari 12 mil atau sekitar 19 kilometer. Sejumlah petugas bahkan harus turun menggunakan tali untuk mencapai lokasi yang terisolasi.
Kondisi semakin berbahaya karena cuaca dapat berubah dengan cepat. Selain itu, gletser di sekitar lokasi masih berpotensi mengalami keruntuhan. Setidaknya satu dari dua bendungan alami yang terbentuk akibat material batu, lumpur, dan sedimen juga masih berisiko jebol dan memicu banjir susulan.
Namun, persoalan bukan hanya soal sulitnya medan. Akses terhadap informasi juga menjadi tantangan tersendiri.
Jurnalis asing yang ingin memasuki Tibet membutuhkan izin khusus yang relatif sulit diperoleh. Berbeda dengan sejumlah wilayah China lainnya, perjalanan ke Tibet bagi wartawan asing umumnya dilakukan dengan pengawasan dan pengaturan dari pihak berwenang.
Kondisi tersebut membuat informasi dari warga lokal sulit diverifikasi secara independen. Lhadon Tethong dari Tibet Action Institute bahkan mengaku heran karena jaringan kontaknya tidak memberikan banyak informasi mengenai kondisi masyarakat di Kyirong.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Sungguh mencengangkan bahwa di seluruh jaringan kontak kami, kami sama sekali tidak mendengar kabar apa pun.
Seorang warga Tibet di pengasingan yang menggunakan nama samaran Dawa juga mengatakan informasi mengenai bencana semakin sulit disebarkan. Menurutnya, unggahan di media sosial dan grup WeChat dihapus, sementara informasi yang berasal dari luar China turut disensor.
Halaman Selanjutnya
Video dramatis yang memperlihatkan gelombang lumpur menerjang bangunan, jalan, dan jembatan sempat menyebar luas ke berbagai negara. Namun, video lengkap tersebut kemudian sulit ditemukan di China. Pencarian hanya menampilkan potongan video atau gambar yang telah disunting.

1 week ago
21













