Dampak Perang Iran vs Israel-AS Mulai Terasa, Harga BBM Ikut Melonjak

2 hours ago 1

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:25 WIB

Jakarta, VIVA – Lonjakan harga energi kembali menjadi perhatian pasar global setelah konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, memicu gangguan pada produksi serta distribusi minyak dunia. Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat di AS melalui kenaikan harga bahan bakar di pompa bensin.

Situasi tersebut berpotensi memberi tekanan tambahan pada perekonomian negara tersebut. Sebelum konflik terjadi pun, isu biaya hidup sudah menjadi salah satu kekhawatiran utama masyarakat, sehingga kenaikan harga energi berisiko semakin menekan pengeluaran rumah tangga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Harga minyak mentah melonjak tajam sejak konflik pecah pada 28 Februari. Sebelum perang dimulai, harga minyak berada di sekitar US$67 per barel, namun pada Senin meningkat hingga mendekati US$97 per barel. Bahkan, harga minyak sempat menembus US$100 per barel pada Minggu sebelum sedikit terkoreksi.

Kenaikan tersebut terjadi karena konflik mengganggu produksi dan transportasi energi di salah satu kawasan paling kaya sumber daya energi di dunia. Ketegangan geopolitik itu menimbulkan kekhawatiran di pasar global terkait potensi gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan.

Lonjakan harga minyak juga langsung berdampak pada harga bensin di Amerika Serikat. Pelacak harga bahan bakar GasBuddy melaporkan bahwa harga rata-rata bensin di negara tersebut naik sekitar 51 sen per galon dalam sepekan terakhir.

Lonjakan harga energi juga berpotensi meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Donald Trump. Pemerintah AS sebelumnya sudah menghadapi kritik terkait tingginya biaya hidup, dan kenaikan harga bensin dapat memperburuk persepsi publik terhadap pengelolaan ekonomi.

Analis senior yang memantau Iran dan pasar minyak di Eurasia Group, Gregory Brew, memperkirakan harga bahan bakar masih berpotensi naik dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Saya pikir kenaikan harga minyak saat ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat bisa melihat harga bensin berada di kisaran US$3,50 hingga US$4 per galon pada minggu depan, dan solar bisa mencapai US$5 per galon minggu ini,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Selasa, 10 Maret 2026.

Menurut Brew, dampak kenaikan harga energi saat ini kemungkinan lebih terasa secara politik dibandingkan secara ekonomi. Harga bensin yang tinggi sering memicu pemberitaan negatif dan menambah persepsi bahwa pemerintah tidak mampu menangani kondisi ekonomi dengan baik.

Halaman Selanjutnya

Data historis menunjukkan bahwa rekor harga rata-rata bensin di Amerika Serikat terjadi pada Juni 2022, ketika harga mencapai US$5,034 per galon, beberapa bulan setelah pecahnya perang Rusia di Ukraina.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |