DBD Sudah Ada di Indonesia Sejak 1968, Mengapa Sampai Sekarang Belum Tuntas?

1 week ago 18

Sabtu, 5 September 2026 - 12:50 WIB

VIVA – Demam Berdarah Dengue (DBD) bukan penyakit baru bagi masyarakat Indonesia. Hampir enam dekade penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini terus menjadi ancaman kesehatan, bahkan hingga kini.

Kasus DBD pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968 melalui kejadian luar biasa (KLB) di Jakarta dan Surabaya. Saat itu tercatat 58 kasus dengan 24 kematian atau tingkat kematian mencapai 41,3 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seiring perkembangan penanganan medis dan pengendalian penyakit, angka kematian akibat DBD berhasil ditekan hingga berada di bawah 1 persen. Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai.

Jumlah kasus yang masih tinggi menunjukkan bahwa DBD tetap membutuhkan kewaspadaan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan tidak hanya muncul ketika musim hujan tiba.

Kajian Burden of Disease yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada memperkirakan lebih dari 2 juta rawat inap akibat DBD terjadi di Indonesia sepanjang 2024. Beban ekonominya pun diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun.

Di balik angka tersebut, terdapat keluarga yang harus menghadapi biaya perawatan, kehilangan waktu produktif, hingga kekhawatiran ketika kondisi pasien mengalami perburukan.

Gejala Awalnya Bisa Terlihat Seperti Demam Biasa

Dokter sekaligus kreator konten, dr. Gia Pratama Putra, mengingatkan bahwa salah satu tantangan DBD adalah gejalanya pada fase awal dapat menyerupai penyakit demam lainnya.

“Pada fase awal, DBD dapat sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya. Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat. Karena itu, keluarga perlu memantau kondisi pasien dengan cermat dan segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya, seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran," ujar dr Gia dalam keterangannya, dikutip Sabtu 5 September 2026. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat. Karena DBD sudah begitu lama dikenal oleh masyarakat, jangan sampai justru kita menganggapnya sebagai bagian yang biasa dari kehidupan kita sehari-hari,” sambungnya.

Menurut dr. Gia, pengalaman di fasilitas kesehatan memperlihatkan bahwa persoalan DBD bukan hanya mengenai jumlah pasien. Kemampuan mengenali tanda bahaya, memantau kondisi pasien, serta memberikan penanganan dan rujukan secara cepat juga menjadi faktor penting untuk mencegah kondisi semakin berat.

Halaman Selanjutnya

“Di IGD kami bekerja menyelamatkan pasien ketika dengue sudah menjadi berat. Tetapi kemenangan terbesar sebenarnya terjadi jauh sebelum pasien sampai ke IGD. Untuk itu, pencegahan tetap menjadi perlindungan pertama. Setiap keluarga dapat berperan dengan menjalankan 3M Plus secara konsisten, mengurangi paparan gigitan nyamuk, memerhatikan lingkungan di rumah dan tempat beraktivitas, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan lainnya, termasuk vaksinasi dengue,” lanjutnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |