Jakarta, VIVA – Sebagai salah satu aset lindung nilai (safe haven) yang dinilai kebal inflasi, emas terus menjadi sorotan pelaku pasar bahkan perhatian semakin besar sejak meletusnya perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Perubahan arah peta keuangan global mulai memberi sinyal kuat terhadap masa depan emas di tengah tren de-dolarisasi yang kian menguat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bank investasi asal Jerman, Deutsche Bank, menilai meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan fragmentasi ekonomi global mendorong banyak negara mengalihkan cadangan devisa mereka dari dolar AS ke emas sebagai aset lindung nilai.
Jenis logam mulia ini diproyeksikan menjadi aset paling diuntungkan bahkan berpotensi melonjak hampir dua kali lipat dari harga saat ini dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Senin, 27 April 2026, Deutsche Bank melaporkan sejumlah bank sentral semakin agresif menambah cadangan emas. Aksi borong emas ini bertujuan untuk melindungi ekonomi negara dari risiko sanksi Barat dan volatilitas pasar global.
Ilustrasi harga emas dunia.
“Bank-bank sentral ini menambahkan lebih dari 225 juta ons emas ke cadangan mereka sejak krisis keuangan 2008, sementara kepemilikan dolar AS turun dari lebih dari 60 persen di awal 2000-an menjadi sekitar 40 persen saat ini,” tulis Deutsche Bank dikutip dari Mining.com pada Rabu, 29 April 2026.
Tren pembelian emas juga tidak lagi didominasi negara besar. Selain China, Rusia, India, dan Turki, negara seperti Kazakhstan, Arab Saudi, Qatar, Mesir, hingga Uni Emirat Arab juga mulai meningkatkan pembelian emas.
Jika tren ini berlanjut, porsi emas dalam cadangan bank sentral global diperkirakan bisa meningkat hingga 40 persen dari saat ini sekitar 30 persen. Dalam simulasi yang dilakukan, Deutsche Bank memperkirakan harga emas berpotensi besar naik hampir 80 persen dari level saat ini.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Deutsche Bank menjalankan simulasi yang memproyeksikan harga emas akan mencapai US$8.000 (sekitar Rp 138,5 juta dengan estimasi kurs Rp 17.320 per dolar) per ons dalam lima tahun," demikian prediksi bank asal Jerman ini.
Melansir laman Gold Price, harga emas dunia diperdagangkan pada level US$4.570,05 atau sekitar Rp 79,14 juta per ons pada Rabu, 29 April 2026 saat pukul 15.00 WIB. Harga ini mengalami koreksi 0,52 persen dalam sesi perdagangan hari ini.
Halaman Selanjutnya
Meski proyeksi tersebut bersifat konseptual, pandangan ini sejalan dengan konsensus industri yang melihat emas sebagai penerima manfaat utama dari tren de-dolarisasi global, terutama saat kepercayaan terhadap aset berbasis dolar mulai melemah.

2 days ago
3



























