VIVA – Perbincangan tentang virus Nipah kembali mencuat dan memicu kekhawatiran masyarakat di berbagai negara. Penyakit yang dikenal dapat menimbulkan gangguan serius pada sistem saraf ini memang bukan hal baru di dunia medis, tetapi setiap kemunculan kasus selalu menimbulkan kewaspadaan tinggi.
Informasi yang beredar pun beragam, mulai dari gejala, penularan, hingga asal-usul namanya. Scroll untuk membaca informasinya lebih lanjut...
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di tengah derasnya arus informasi, pemahaman berbasis keterangan ahli menjadi penting agar masyarakat tidak salah kaprah. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah nama “Nipah” itu sendiri. Banyak yang mengira istilah tersebut berasal dari India, mengingat laporan kasus terbaru muncul dari negara tersebut.
Namun, penjelasan pakar menunjukkan fakta sejarah yang berbeda. Adjunct Professor Griffith University Prof. Tjandra Yoga Aditama memaparkan asal mula penamaan virus ini.
“Kita dan juga dunia mengikuti dengan waspada perkembangan penyakit akibat Virus Nipah, yang pada saat ini kasusnya ada di India. Tentu nama virus ini, Nipah, bukanlah bahasa India, ini adalah bahasa Melayu yang kita kenal bersama,” kata Prof. Tjandra di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi secara menyeluruh, klaster awal kasus virus tersebut muncul pada akhir September 1998 di sekitar kota Ipoh, negara bagian Perak, Malaysia. Setelah itu, muncul klaster kedua di dekat kota Sikamat, negara bagian Negri Sembilan, pada Desember 1998 dan Januari 1999.
Pada dua klaster awal ini, penyakitnya belum dikenali secara pasti dan sempat diduga sebagai penyakit “Japanese Encephalitis (JE)”. Bahkan, penyakit tersebut juga sempat dikaitkan dengan virus Hendra.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hal ini sejalan dengan publikasi ilmiah di jurnal Morbidity Mortality Weekly Report (MMWR) berjudul “Outbreak of Hendra-Like Virus—Malaysia and Singapore, 1998–1999” yang terbit pada April 1999. Kesamaan gejala serta kedekatan asal-usul virus membuat dugaan awal mengarah ke sana.
Situasi berubah ketika muncul klaster ketiga yang berkembang menjadi wabah terbesar. Wabah ini terjadi di kampung Sungai Nipah, Bukit Pelandok, dan wilayah sekitarnya di daerah Port Dickson, negara bagian Negeri Sembilan, mulai Desember 1998.
Halaman Selanjutnya
Kampung Sungai Nipah bahkan sempat menjalani lockdown oleh pemerintah setempat. Dari penelitian mendalam terhadap kasus-kasus di kampung Sungai Nipah inilah akhirnya disimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh virus baru.

4 weeks ago
5










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

