Dilema Produk Impor VS Lokal di Tanah Air, Rachmat Gobel: Indonesia Terlalu Banyak Bebasnya

3 hours ago 1

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:37 WIB

VIVA – Indonesia kembali kehilangan sosok besar di sektor ekonomi sekaligus politik, Rachmat Gobel meninggal dunia pada Jumat (10/7/2026).

Rachmat Gobel menghembuskan nafas terakhirnya di RS Brawijaya Tebet, Jakarta Selatan pada pukul 03.20 WIB.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kiprahnya dalam membangun industri nasional membuat sosoknya menjadi kiblat kesuksesan oleh para pengusaha Indonesia.

Sebelum meninggal dunia, Rachmat Gobel pernah memberikan pandangannya mengenai daya saing produk lokal dengan produk impor di Indonesia.

Dilema Produk Impor VS Lokal di Tanah Air

Sejak sepuluh tahun lalu, Rachmat Gobel pernah menjelaskan alasan produk impor bisa lebih murah dibandingkan produk dalam negeri.

Pengusaha itu menyebutkan perlu adanya harmonisasi tarif produksi agar biaya yang dikeluarkan tidak terlalu mahal, sehingga harga jual produk tidak mahal juga.

“Misalnya kita bikin komponen dalam negeri, kita lebih baik impor komponen daripada kita bikin komponen dalam negeri. Harmonisasi tarif itu diperlukan,” ungkap Rachmat Gobel pada tayangan YouTube BeritaSatu.

Kedua, Untuk memajukan industri nasional, diperlukan harmonisasi regulasi agar kebijakan di Indonesia dapat saling mendukung.

Langkah ini sangat penting, terutama di tengah dominasi produk Tiongkok di pasar domestik. 

Rachmat Gobel meyakini produk lokal memiliki potensi besar untuk memenangkan persaingan tersebut melalui tiga strategi utama: inovasi produk, pelayanan purna jual (after-sales service) yang memuaskan, serta penguatan jaringan pasar yang konsisten.

Wakil Ketua DPR RI Bidang Korinbang, Rachmat Gobel

Mantan Menteri Perdagangan ini mengingatkan bahwa industri yang berbasis investasi dalam negeri berkomitmen penuh untuk membangun pasar nasional. 

Berbeda dengan produk impor yang sekadar melakukan transaksi jual-beli, produk lokal memikul tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan konsumen jangka panjang, salah satunya melalui jaminan layanan purna jual yang prima.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Yang harus kita jual adalah, kita punya tanggung jawab terhadap para konsumen Indonesia. Konsumen harus kita bangun. Kalau terjadi sesuatu, makanya perlu after sales service harus dibangun karena bagian dari tanggung jawab daripada industri itu sendiri,” jelas Rachmat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026, neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit terdalam hingga mencapai US$1,61 miliar. 

Halaman Selanjutnya

Kerugian terbesar dalam perdagangan ini disumbang oleh transaksi dengan Tiongkok.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |