Donald Trump Terus Injak Iran, Teheran Ancam Gebuk Kepentingan Ekonomi AS

2 weeks ago 20

Jumat, 28 Agustus 2026 - 13:28 WIB

VIVA - Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menargetkan kepentingan ekonomi Amerika Serikat (AS) jika blokade maritim terhadap negaranya terus berlanjut.

“Jika blokade terus berlanjut, kami akan menargetkan kepentingan ekonomi AS secara menyeluruh, dengan intensitas dan kekuatan,” kata Rezaei, seperti dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah IRIB, Jumat, 28 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mengatakan bahwa Iran telah “mematahkan blokade maritim” selama gencatan senjata dan mengekspor antara 70 juta hingga 80 juta barel minyak. Menurutnya, penjualan minyak Iran telah kembali ke tingkat sebelum diberlakukannya sanksi.

“Selain mengosongkan stok minyak yang tersimpan di kapal-kapal, kami telah membuka jalur ekspor baru yang secara bertahap terus diperluas,” kata Rezaei.

Mengenai perkembangan di Lebanon, Rezaei mengatakan bahwa Beirut dan wilayah pinggiran selatannya merupakan “garis merah” bagi Teheran.

“Tidak ada pihak yang berhak bergerak menuju Beirut atau wilayah pinggiran selatannya. Kami memantau situasi dengan sangat serius dan penuh perhatian,” ucapnya.

Rezaei menambahkan bahwa Israel akan dipaksa untuk menarik diri dari wilayah-wilayah yang didudukinya di Lebanon. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam pernyataannya di Gedung Putih: “Selat itu terbuka. Selat Hormuz terbuka. Kami mengendalikannya, dan kami melakukan blokade.”

Pada pertengahan Juni 2026, Iran dan AS, dengan mediasi Pakistan dan Qatar, menandatangani nota kesepahaman 14 poin di Islamabad.

Nota kesepahaman tersebut mencakup ketentuan mengenai penghentian permusuhan, pembukaan kembali selat, pencabutan blokade laut AS, serta dimulainya proses negosiasi selama 60 hari.

Teheran menuduh AS gagal melaksanakan sejumlah ketentuan penting dalam nota kesepahaman tersebut dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya dibuka kembali sampai Washington memenuhi komitmennya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengaku tidak menutup kemungkinan negaranya menjatuhkan sanksi terhadap bank-bank China yang tetap bekerja sama dengan Iran meski sanksi terbaru telah diberlakukan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Siapa bilang saya tidak akan melakukannya? Anda tidak tahu apakah saya melakukannya ... Saya tidak harus mengumumkan semuanya, bukan?" kata Trump.

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan serupa.

Halaman Selanjutnya

Pada pertengahan Juni lalu, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan, tetapi tak lama kemudian kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |