Erupsi Anak Krakatau Ganggu 2.961 Penerbangan, 341 Ribu Penumpang Terdampak

6 days ago 16

Selasa, 8 September 2026 - 00:57 WIB

Jakarta, VIVA – Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) terhadap penerbangan semakin meluas. Hingga Senin sore, 7 September 2026, sebanyak 2.961 penerbangan domestik dan internasional terdampak akibat perubahan operasional sejumlah bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, ribuan penerbangan tersebut terdiri dari 2.339 penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Hingga Senin, 7 September 2026 sore, sebanyak 2.961 penerbangan terdampak perubahan operasional bandara akibat sebaran abu vulkanik, di antaranya 2.339 penerbangan domestik dan 622 internasional," ujarnya, dikutip Selasa, 8 September 2026.

Dampak tersebut turut dirasakan oleh sekitar 341.000 penumpang. Mereka terdampak akibat adanya penerbangan yang dibatalkan, ditunda maupun dialihkan.

Di tengah tingginya dampak terhadap penerbangan, pemerintah masih memperpanjang penutupan sementara tujuh bandara yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Penutupan operasional dilakukan hingga Senin, 7 September 2026 pukul 23.59 WIB.

Tujuh bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta di Banten, Radin Inten II di Lampung, Budiarto di Banten, Halim Perdanakusuma di Jakarta, Pondok Cabe di Banten, Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung, dan Husein Sastranegara di Jawa Barat.

Dudy menjelaskan keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan keselamatan penerbangan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kondisi arah angin yang masih berubah-ubah.

"Kenapa kami bersikap konservatif, karena arah angin sangat dinamis. Kita ingin memastikan betul bahwa debu vulkanik ini menjauh dari lokasi bandara yang ada di sekitar Gunung Anak Krakatau," tutur Menhub.

Pemerintah tidak serta-merta membuka kembali bandara meski hasil paper test di sejumlah lokasi terdampak menunjukkan hasil negatif.

Pembukaan operasional masih menunggu hasil Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin yang menjadi pusat rujukan resmi terkait kondisi abu vulkanik untuk penerbangan.

Selain itu, penutupan memberikan kesempatan kepada pengelola bandara dan maskapai untuk melakukan pemeriksaan sebelum operasional kembali normal.

Pengelola bandara perlu memeriksa serta membersihkan fasilitas sisi udara, termasuk runway, taxiway dan apron.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara maskapai harus memastikan pesawat terbebas dari kemungkinan paparan abu vulkanik sebelum kembali digunakan untuk penerbangan.

"Kami memastikan semua berjalan dengan baik dan kita tidak ingin mengesampingkan aspek keselamatan," kata Menhub.

Halaman Selanjutnya

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama pihak terkait masih memantau perkembangan sebaran abu vulkanik dan advisory VAAC Darwin sebagai dasar evaluasi operasional bandara.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |