FNF Asia: Demokrasi Dalam Tekanan, dari AS hingga Indonesia

1 week ago 10

Jumat, 4 September 2026 - 17:00 WIB

Yogyakarta, VIVA – Gelombang populisme dan kemunduran demokrasi dinilai telah menjadi persoalan global yang tidak hanya melanda negara berkembang, tetapi juga menjangkau negara-negara dengan tradisi demokrasi yang panjang seperti Amerika Serikat dan Jerman.

Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam pembukaan CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia sekaligus 9th CALD Party Management Workshop di Karaton Ballroom, Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Jumat, 4 September 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejumlah tokoh yang berbicara dalam forum internasional tersebut mengingatkan bahwa demokrasi menghadapi tantangan serius ketika kekuasaan politik dan ekonomi semakin terkonsentrasi, kepercayaan publik terhadap institusi melemah, ketimpangan membesar, serta populisme mendapatkan ruang untuk berkembang.

Peringatan mengenai situasi demokrasi global juga disampaikan Direktur Regional Friedrich Naumann Foundation (FNF) Asia, Moritz Kleine-Brockhoff.

Moritz membandingkan optimisme demokrasi ketika Tembok Berlin runtuh dan Perang Dingin berakhir dengan situasi dunia saat ini.

“Ketika saya tumbuh besar di Jerman, runtuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin adalah masa kejayaan demokrasi. Namun hari ini, demokrasi berada dalam tekanan di banyak tempat,” ujar Moritz.

Ia menyinggung perkembangan politik di Amerika Serikat (AS) dan menguatnya populisme sayap kanan di Jerman sebagai contoh bahwa tekanan terhadap demokrasi tidak hanya terjadi di negara berkembang.

Di kawasan Asia, Moritz juga menyoroti sejumlah tantangan berbeda, mulai dari kudeta militer di Myanmar, disinformasi di Filipina, pembubaran partai politik melalui lembaga peradilan di Thailand, hingga persoalan demokrasi di Vietnam.

Indonesia pun, menurut Moritz, tidak terlepas dari kecenderungan kemunduran demokrasi tersebut.

“Di Indonesia sendiri, kita menyaksikan kemunduran demokrasi yang mengkhawatirkan. Pendiri yayasan kami, Friedrich Naumann, pernah menyatakan bahwa ‘Demokrasi membutuhkan orang-orang yang demokratis’. Maka, terserah kepada kita para demokrat untuk merespons hal ini,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Senada dengan pandangan tersebut, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dalam keynote address-nya mengingatkan bahaya populisme otoriter terhadap institusi demokrasi.

Menurut Hasto, salah satu paradoks populisme otoriter adalah penggunaan bahasa dan aspirasi rakyat untuk membangun dukungan politik, tetapi kekuasaan yang terbentuk justru dapat melemahkan institusi yang seharusnya melindungi rakyat.

Halaman Selanjutnya

“Populisme otoriter berbicara dalam bahasa rakyat, namun sering kali justru memperlemah institusi yang melindungi rakyat. Ia berjanji membuat bangsa menjadi kuat, namun meminta warga negara menyerahkan kebebasan mereka demi ketertiban,” ujar Hasto.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |