Minggu, 2 Agustus 2026 - 23:00 WIB
Jakarta, VIVA – Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, meminta Komisi Eropa untuk memprioritaskan perlindungan perbatasan eksternal Uni Eropa.
Hal itu menyusul masuknya migran ke wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, sebagaimana yang dilaporkan surat kabar Jerman Bild pada Minggu, 2 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menlu Jerman mengatakan, negara-negara Eropa membutuhkan mitra eksternal, seperti Maroko, untuk mengendalikan migrasi ilegal. Eropa dilaporkan berhasil menghindari krisis migrasi besar, meskipun situasinya tetap tegang.
Aparat Keamanan Spanyol Berjaga saat Imigran Maroko tiba di Pesisir Ceuta
Photo :
- Anadolu Agency/Marcos Moreno
Sebelumnya pada akhir Juli 2026, Ceuta mencatat gelombang migran dalam jumlah besar dari Maroko. Pada Jumat, Walikota-Presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas mengatakan, sekitar 60.000 orang telah memasuki wilayah kota dari Maroko dalam satu hari.
Kerusuhan pecah di tengah krisis, dan menyebabkan dikerahkannya tambahan unit polisi, Garda Sipil, dan militer dikerahkan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Diketahui, Ceuta adalah daerah kantong Spanyol di pantai utara Afrika, dan terletak di perbatasan dengan Maroko.
Bersama dengan Melilla, Ceuta membentuk satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika, dan dianggap sebagai jalur utama migrasi ilegal ke Uni Eropa. (Ant).
Jumlah Imigran Tewas saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang
Jumlah imigran yang tewas saat mencoba memasuki wilayah kantong Spanyol di Ceuta, Afrika Utara dari Maroko mencapai 90 orang. Puluhan ribu imigran dikabarkan masuk.
VIVA.co.id
2 Agustus 2026

3 days ago
1


















