Kamis, 30 April 2026 - 16:14 WIB
VIVA –Presiden Donald Trump kembali membuat geram publik usai pernyataannya saat menjalani wawancara dengan media Fox pada 26 April lalu. Dalam wawancara tersebut, Trump sempat menyinggung soal blokade ekspor minyak mentah Iran dia juga menyebut bahwa pipa-pipa tersebut bisa meledak dalam hitungan tiga hari ke depan.
Pernyataan tersebut langsung ditanggapi oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Dalam unggahannya di akun X, Kamis 30 April 2026, Qalibaf menyindir omongan Trump sebagai ’omongan kosong’ belaka.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Sudah tiga hari berlalu, tidak ada sumur yang meledak. Kalau mau, bisa kita lanjutkan sampai 30 hari dan kita siarkan langsung dari sini,” tulis Ghalibaf di akun X miliknya pada Kamis.
Ia juga mengejek klaim bahwa jalur minyak Iran bisa meledak karena kelebihan produksi yang tidak tersalurkan. Menurutnya, pernyataan seperti itu lahir dari ’saran ngawur’ dari pihak-pihak seperti Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.
Politisi senior Iran itu memperingatkan bahwa pola pikir seperti ini justru bisa mendorong harga minyak hingga 140 dolar per barel atau setara kurang lebih Rp 2,3 juta per barel.
“Begitulah saran ngawur yang diterima pemerintah AS dari orang-orang seperti Bessent, yang juga mendorong teori blokade hingga membuat harga minyak tembus 120 dolar lebih. Berikutnya bisa 140. Masalahnya bukan pada teorinya, tapi cara berpikirnya,” tambah Ghalibaf.
Sebelumnya, Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News, dia mengklaim bahwa pipa yang mengalirkan minyak dalam jumlah besar bisa tersumbat karena alasan apa pun dan dapat meledak dari dalam akibat masalah mekanis jika minyak tidak bisa dimuat ke kapal atau kontainer.
“Kurang lebih hanya tersisa tiga hari sebelum kejadian seperti itu terjadi di Iran,” kata Presiden AS tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia juga mengklaim bahwa pipa yang meledak tidak akan pernah bisa kembali ke kondisi semula dalam keadaan apa pun.
Agresi Amerika Serikat dan Israel, ditambah ancaman Washington untuk melanjutkan serangan udara ke Teheran jika tidak ada kesepakatan, serta pembatasan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, telah mendorong kenaikan harga minyak dalam dua bulan terakhir.
Halaman Selanjutnya
Sementara itu, harga minyak melonjak lebih dari lima persen pada Kamis dan mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir setelah Trump memperingatkan bahwa blokade ilegal AS terhadap pelabuhan Iran bisa berlangsung selama berbulan-bulan.

1 day ago
1



























