GRIB Jaya Tegaskan Kehadiran Hercules Pascademo Bukan Bukti Terlibat Kerusuhan

2 weeks ago 15

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:00 WIB

Jakarta, VIVA – Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya memberikan klarifikasi terkait beredarnya sejumlah video yang memperlihatkan Ketua Umum GRIB Jaya Rosario de Marshall alias Hercules bersama sejumlah masyarakat di lapangan setelah peristiwa penyampaian aspirasi pada 27 Agustus 2026.

Divisi Hukum DPP GRIB Jaya, Wilson Colling, S.H., M.H., menegaskan keberadaan Hercules dan jajaran di lokasi tidak dapat langsung dimaknai sebagai keterlibatan dalam kerusuhan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Wilson, kehadiran tersebut harus dilihat berdasarkan konteks situasi keamanan dan kondisi lingkungan saat itu. Ia menyebut Hercules berada di lapangan dalam rangka memantau keadaan sekaligus menjaga kondusivitas.

"Kehadiran tersebut merupakan bagian dari upaya persuasif untuk memantau keadaan dan menjaga kondusivitas lingkungan, bukan untuk memperkeruh keadaan, melakukan provokasi, ataupun terlibat dalam benturan fisik," demikian penjelasan Wilson dalam keterangannya.

GRIB Jaya Klaim Tak Pernah Instruksikan Anggota Ikut Demo

Wilson juga menegaskan bahwa secara organisatoris tidak pernah ada instruksi dari GRIB Jaya kepada anggotanya untuk mengikuti demonstrasi maupun melakukan kegiatan yang berkaitan dengan aksi tersebut.

Menurut dia, instruksi Ketua Umum GRIB Jaya telah disampaikan secara jelas dan tegas serta dipublikasikan melalui media internal organisasi.

Karena itu, Wilson meminta keberadaan individu tertentu di suatu lokasi tidak serta-merta ditafsirkan sebagai representasi tindakan organisasi.

Ia menilai kesimpulan mengenai keterlibatan organisasi harus didukung bukti yang menunjukkan adanya perintah, koordinasi, atau tindakan yang berkaitan dengan tindak pidana.

"Kehadiran di suatu tempat tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan dalam tindak pidana," tegasnya.

GRIB Jaya Jelaskan Soal Seruan "Pulang-Pulang"

Klarifikasi GRIB Jaya juga menyinggung video yang memperdengarkan seruan "pulang-pulang" di tengah situasi pascademonstrasi.

Wilson meminta publik melihat ucapan tersebut secara utuh dan tidak memisahkannya dari waktu, lokasi, situasi, serta rangkaian kejadian yang terjadi sebelum dan sesudahnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, seruan untuk pulang justru dapat dimaknai sebagai imbauan agar masyarakat atau massa meninggalkan lokasi secara tertib ketika situasi sudah tidak kondusif.

Terlebih, apabila batas waktu penyampaian aspirasi telah berakhir dan kondisi mulai berpotensi menimbulkan gesekan, ajakan untuk membubarkan diri secara damai dapat menjadi langkah preventif untuk mencegah konflik yang lebih besar.

Halaman Selanjutnya

Karena itu, satu ucapan dalam potongan video dinilai tidak cukup untuk membangun kesimpulan bahwa seseorang terlibat dalam kerusuhan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |