Harga Bensin di AS Tembus Rp71 Ribu Imbas Perang, Krisis Energi Global Makin Panas

1 day ago 1

Kamis, 30 April 2026 - 12:30 WIB

Jakarta, VIVA – Harga bahan bakar di Amerika Serikat kembali mencetak rekor tertinggi tahun ini di tengah berlanjutnya konflik perang dengan Iran yang kini telah memasuki bulan ketiga. Rata-rata harga bensin nasional tercatat mencapai US$4,23 per galon atau sekitar Rp71.910 per galon (kurs Rp17.000), menurut data AAA.

Lonjakan ini dipicu ketegangan geopolitik yang semakin dalam, terutama setelah adanya blokade di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia dari Teluk Persia. Gangguan ini membuat pasokan minyak global terganggu dan harga minyak mentah melonjak tajam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Harga minyak Brent sebagai acuan internasional kini berada di level US$114,60 atau sekitar Rp1.948.200 per barel, naik hampir 25 persen dari titik terendah pada pertengahan April. Angka ini hanya beberapa dolar di bawah puncak terbaru di US$118.

Sehari sebelumnya, AAA mencatat kenaikan harga bensin sebesar US$0,07 atau sekitar Rp1.190 per galon. Secara keseluruhan, harga bensin telah naik sekitar US$1,25 atau Rp21.250 per galon sejak sebelum perang dimulai.

Kenaikan ini juga diperburuk oleh musim perawatan kilang serta meningkatnya permintaan bahan bakar menjelang musim panas di Amerika Serikat. Banyak SPBU mencoba menahan kenaikan harga dengan mengurangi margin keuntungan, namun kondisi ini tidak bisa bertahan lama.

Seorang analis energi, Tom Kloza, menggambarkan situasi ini sebagai tekanan margin paling berat dalam beberapa tahun terakhir. “Ini adalah tekanan paling serius, dalam hal penekanan margin, yang pernah kami lihat untuk pengecer sejak 2020,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari NBC News, Kamis, 30 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Bank of America dalam laporan analisnya menyoroti risiko yang lebih luas terhadap ekonomi rumah tangga. “Risiko yang jauh lebih besar muncul jika harga bensin dan minyak yang lebih tinggi merembes ke kebutuhan lain seperti bahan makanan dan utilitas, meskipun sejauh ini masih sedikit bukti yang menunjukkan hal tersebut.”

Mereka juga memperingatkan bahwa sebagian masyarakat mungkin akan mengandalkan utang untuk bertahan menghadapi kenaikan harga. “Meskipun ada kemampuan bagi sebagian orang untuk ‘bertahan’ dari guncangan harga bensin dengan lebih mengandalkan pinjaman kartu kredit, hal ini tampaknya terbatas, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.”

Halaman Selanjutnya

Dampak kenaikan harga energi ini mulai terasa pada daya beli masyarakat. Namun, sebagian analis menyebut pengeluaran bahan bakar rumah tangga masih lebih rendah dibandingkan masa krisis sebelumnya seperti 2008 dan awal 2010-an.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |