Harga Emas Dunia Tiba-Tiba Rontok Saat Keyakinan The Fed Pangkas Suku Bunga Memudar

15 hours ago 2

Selasa, 10 Maret 2026 - 15:01 WIB

Jakarta, VIVA Harga emas dunia mendadak terjun di bawah level pada perdagangan awal pekan, Senin, 9 Maret 2026. Penurunan tajam seiring lunturnya optimisme pasar Federal Reserve (The Fed) tidak akan memangkas suku bunga acuan

Harga emas di pasar spot tercatat turun1,5 persen menjadi US$5.091,02 atau sekitar Rp 85,94 juta (estimasi kurs Rp 16.880 per dolar AS) per ons pada pukul 02.33 GMT. Sebelumnya, harga emas sempat merosot lebih dari 2 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman April juga turun 1,2 persen menjadi US$5.097,40 per ons.
Tekanan terhadap harga emas terjadi seiring menguatnya dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir. 

Selain emas, harga logam mulia lainnya juga ikut terkoreksi. Harga perak spot turun 1,5 persen menjadi US$83,09 per ons, platinum melemah 1,1 persen ke level US$2.111,04, dan palladium turun 1,4 persen menjadi US$1.603,25 per ons.

“Emas hari ini berada di posisi tertekan meskipun pasar sedang bergejolak. Harga minyak yang melonjak hingga tiga digit mendorong penguatan dolar karena kekhawatiran inflasi serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga,” ujar Analis Kepala KCM Trade, Tim Waterer, dikutip dari Yahoo Finance, Selasa, 10 Maret 2026.

Lonjakan harga energi memang menjadi salah satu pemicu utama perubahan sentimen pasar. Harga minyak mentah dilaporkan melonjak lebih dari 20 persen hingga melampaui US$110 per barel setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Waterer menilai reli harga emas dalam setahun terakhir sebenarnya banyak didorong oleh ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mulai memangkas suku bunga. Sehingga memudarkan keyakinan The Fed akan memangkas suku bunga memberikan tekanan cukup kuat. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Sebagian besar kenaikan harga emas selama 12 bulan terakhir didasarkan pada pandangan dovish terhadap suku bunga AS. Namun dengan risiko inflasi dari harga minyak di atas US$100 per barel, pemangkasan suku bunga tidak lagi menjadi kepastian sehingga harga emas menyesuaikan kembali,” jelasnya.

Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada akhir pertemuan dua hari yang dijadwalkan berakhir pada 18 Maret 2026. Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, probabilitas bank sentral AS mempertahankan suku bunga hingga Juni meningkat menjadi lebih dari 51 persen atau naik dari posisi di bawah 43 persen pada pekan lalu.

Halaman Selanjutnya

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas biasanya lebih diminati ketika suku bunga berada di level rendah. Sebaliknya, ekspektasi suku bunga tinggi cenderung menekan daya tarik logam mulia tersebut.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |