Jakarta, VIVA - Perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu sore waktu AS. Pihak Washington dikabarkan bersiap memperpanjang blokade terhadap Iran.
Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global. Khususnya dari kawasan Teluk yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Mengutip BBC, harga minyak mentah Brent naik hingga sekitar US$116,98 atau sekitar Rp 2,03 juta (estimasi kurs Rp 17.380 per dolar AS) per barel pada perdagangan Rabu sore, 29 April 2026. Sehari sebelumnya, harga minyak masih berada di kisaran US$110 per barel.
Laporan dari The Wall Street Journal melaporkan Presiden AS, Donald Trump, telah menginstruksikan timnya untuk menyiapkan perpanjangan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kebijakan ini disebut sebagai upaya untuk menekan perekonomian Teheran.
Ilustrasi Donald Trump dan blokade AS terhadap Iran
Menanggapi manuver Trump, Iran menegaskan akan terus menutup lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan salah satu titik paling strategis di dunia yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Sejak konflik memanas, pergerakan harga minyak mengalami fluktuasi tajam. Penutupan Selat Hormuz selama beberapa pekan terakhir telah memperburuk ketidakpastian pasar.
Iran memperketat pembatasan pelayaran sebagai respons atas serangan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026. Pada awal bulan ini, Teheran memperingatkan setiap kapal yang mendekati jalur laut strategis ini akan menjadi target.
Tidak tinggal diam, AS mengerahkan pasukan militernya akan mencegat atau memaksa kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran untuk berbalik arah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Analisis dari BBC Verify mencatat setidaknya empat kapal yang terlacak dari pelabuhan Iran berhasil melintasi garis blokade AS. Kondisi ini menambah kompleksitas situasi di lapangan sekaligus meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Meski sempat turun ke level US$90 per barel setelah pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada 17 April 2026, harga minyak kembali merangkak naik dalam 12 hari terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring berlanjutnya kebijakan blokade oleh AS terhadap Iran.
Halaman Selanjutnya
Secara keseluruhan, harga minyak saat ini masih berada jauh di atas level sebelum konflik terjadi. Mahalnya harga energi mengindikasikan tingginya tekanan geopolitik yang terus membayangi pasar energi dunia.

2 days ago
1



























