Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia menggemparkan pasar karena terjadi lonjakan drastis pada Kamis pagi waktu perdagangan Asia, 30 April 2026. Kenaikan tajam harga energi global dipicu terhambatnya negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, dikabarkan menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penolakan tersebut mengindikasikan kemungkinan blokade terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan nuklir diantara kedua negara.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Trump mengancam Iran melalui unggahan di Truth Social pada Rabu, 29 April 2026. Ia menuliskan agar Iran segera segera sadar lalu mengambil langkah serius dalam negosiasi seraya mengunggah gambar hasil AI yang memperlihatkan dirinya memegang senjata dengan latar ledakan dan tulisan “NO MORE MR. NICE GUY!”
“Iran tidak becus. Mereka tidak tahu cara menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera pintar!” kata Trump dilansir dari CNBC Internasional pada Kamis, 30 April 2026.
Ilustrasi militer AS blokade Selat Hormuz.
Harga minyak kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juni tercatat naik 1,96 persen hingga menyentuh level US$120 atau sekitar Rp2,08 juta (estimasi kurs Rp 17.380 per dolar AS) per barel. Harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), naik tipis 0,2 persen ke level US$107,09 atau sekitar Rp 1,86 juta per barel.
Data LSEG menunjukkan, harga minyak mentah Brent telah melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan tahun 2022. Pendorongnya tidak lain adalah konflik di Timur Tengah mencekik pasokan energi internasional.
Pada sesi perdagangan Rabu, 29 April 2026, minyak Brent telah melonjak sekitar 6 persen. Begitu juga, harga WTI melesat 7 persen tepat setelah laporan The Wall Street Journal mengungkap bahwa Trump telah menginstruksikan pejabatnya untuk mempersiapkan skenario blokade Iran yang berkepanjangan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Analis Goldman Sachs memperkirakan arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz turun drastis hingga tersisa sekitar 4 persen dari level normal. Mereka menilai kondisi ini memperketat pasokan global di tengah mandeknya negosiasi AS-Iran serta terbatasnya kapasitas penyimpanan minyak.
Bank tersebut juga menyoroti gangguan ekspor Iran dapat semakin dalam jika blokade terus berlanjut. Sementara dampak Uni Emirat Arab (UEA) setelah keluar dari OPEC diperkirakan baru terjadi dalam jangka menengah.
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain, Goldman Sachs mencatat adanya risiko pelemahan permintaan minyak global. Konsumsi minyak dunia sepanjang bulan April 2026 diperkirakan turun sekitar 3,6 juta barel per hari dibandingkan Februari 2026 terutama di sektor bahan bakar jet dan petrokimia.

1 day ago
1



























