Hati-hati, Pengamat Beri Peringatan Keras buat Timnas Indonesia: Naturalisasi Bukan Pondasi, Bukan Juga Masa Depan

1 hour ago 1

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:25 WIB

VIVA – Pengamat sepak bola Edwin Setyadinata memberi peringatan kepada Timnas Indonesia terkait ketergantungan terhadap pemain naturalisasi

Menurut Edwin, naturalisasi memang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas skuad dalam menghadapi persaingan di level tinggi, tetapi kebijakan tersebut bukan pondasi utama dan bukan pula masa depan Timnas Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Naturalisasi diaspora itu bukan pondasi utama Timnas, bukan juga masa depan Timnas. Itu hanya pelengkap sebagai percepatan akselerasi untuk Timnas," kata Edwin dalam podcast Tiki Taka Milanesia di YouTube NLR Sports, Senin 24 Agustus 2026.

Pengamat sepak bola Edwin Setyadinata

Photo :

  • YouTube/NLR Sports

Persoalan saat ini, kata dia, muncul ketika Timnas Indonesia terlalu bergantung kepada pemain diaspora. Sebab, performa seorang pemain bisa mengalami penurunan karena berbagai faktor, mulai dari cedera hingga kalah bersaing di klub.

Ia juga menyinggung pentingnya menit bermain di level klub. Menurut Edwin, pemain yang jarang tampil berisiko kehilangan sentuhan dan ritme pertandingan sehingga performanya bersama Timnas juga dapat terpengaruh.

Kondisi tersebut membuat kedalaman skuad menjadi sangat penting. Edwin menilai negara dengan sistem sepak bola yang kuat tidak akan terlalu bergantung kepada satu atau dua pemain.

"Sejago-jagonya pemain diaspora itu, itu kan mereka manusia. Mereka tuh bisa performanya menurun," kata Edwin.

Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Jepang. Menurut Edwin, Jepang memiliki kolam pemain berkualitas yang jauh lebih dalam sehingga ketika seorang pemain tidak lagi berada dalam performa terbaik, pelatih dapat memanggil pemain lain yang sedang tampil bagus di klub.

Hal tersebut berbeda dengan kondisi Timnas Indonesia yang menurut Edwin masih terlalu sering bergantung kepada pemain yang sama.

"Masalah kolam pemain berkualitas kita berkurang, memang minim, sedikit," kata Edwin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itu, Edwin meminta persoalan pembinaan pemain muda menjadi perhatian lebih. Ia menilai Indonesia sebenarnya memiliki jumlah talenta muda yang besar, tetapi belum semuanya mendapatkan kesempatan untuk berkembang melalui sistem kompetisi yang berkesinambungan.

Ia mencontohkan banyak anak di daerah yang memiliki kemampuan bermain sepak bola, tetapi kesulitan mendapatkan akses kompetisi karena keterbatasan fasilitas dan biaya untuk mengikuti turnamen atau liga di luar daerah.

Halaman Selanjutnya

Menurut Edwin, pengembangan sepak bola Indonesia harus dimulai dari bagian bawah piramida sepak bola. Timnas merupakan produk akhir dari sistem tersebut sehingga perhatian tidak seharusnya hanya diberikan ketika pemain sudah mencapai level senior.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |