I League Bongkar Alasan Mengejutkan Hapus Regulasi Wajib Memainkan Pemain U-23 di Super League 2026/2027

1 week ago 23

Selasa, 1 September 2026 - 14:11 WIB

VIVA – I.League resmi menghapus aturan wajib memainkan pemain U-23 selama minimal 45 menit di kompetisi Super League 2026/2027.

Keputusan tersebut sempat menimbulkan pro dan kontra. Sebab, aturan tersebut sebelumnya menjadi salah satu cara untuk memberikan kesempatan bermain kepada pemain muda di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, memastikan penghapusan aturan tersebut bukan berarti operator kompetisi berhenti mendorong perkembangan pemain muda.

Menurut Asep, I.League kini mengubah pendekatan. Pemain U-23 tidak lagi mendapatkan menit bermain hanya karena diwajibkan regulasi, tetapi harus berjuang dan bersaing untuk mendapatkan kepercayaan dari pelatih.

"Yang berbeda adalah tidak ada lagi kewajiban 45 menit untuk pemain U-23 di starting line-up," kata Asep kepada awak media.

Ia menegaskan, I.League tetap memiliki target untuk membangun ekosistem yang mampu melahirkan pemain-pemain muda berkualitas.

"Ini juga bukan berarti kami melepaskan begitu saja goals kami untuk membangun pemain muda, tapi pendekatannya berbeda," ujarnya.

Asep kemudian mencontohkan sejumlah kompetisi Eropa. Menurutnya, banyak pemain muda yang mampu menjadi pemain reguler di klub-klub top tanpa adanya aturan khusus yang mewajibkan mereka tampil.

Karena itu, I.League ingin menciptakan persaingan yang lebih sehat di Super League. Pemain muda diharapkan tidak sekadar masuk starting XI karena aturan, melainkan benar-benar mampu menunjukkan kualitasnya.

Meski tidak lagi diwajibkan, klub tetap akan mendapatkan keuntungan jika memberikan kesempatan kepada pemain U-23.

I.League akan mencatat klub-klub yang konsisten memberikan menit bermain kepada pemain muda. Klub yang memenuhi standar tertentu akan mendapatkan insentif tambahan.

"Karena kami juga menerapkan insentif ataupun benefit lain buat klub yang memainkan pemain U-23 dengan standar minimal tertentu," jelas Asep.

"Kami sudah sajikan formulasinya kepada klub, akan ada insentif tambahan," sambungnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Asep berharap kebijakan baru tersebut justru membuat persaingan pemain muda semakin ketat. Mereka dituntut mampu bersaing dengan pemain senior, pemain asing, hingga pemain naturalisasi dan diaspora.

Dengan demikian, pemain muda yang akhirnya mendapatkan tempat di kompetisi level tertinggi merupakan pemain yang memang memiliki kualitas dan mampu memenangkan persaingan.

Halaman Selanjutnya

"Harapannya bagaimana mereka bisa bersaing dan memang muncul atas persaingan tersebut," tutur Asep.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |