Jakarta, VIVA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, di zona hijau. IHSG ditutup naik 0,37 persen ke level 6.525,69.
Penguatan tersebut memperpanjang tren positif IHSG di tengah dinamika pasar keuangan global, khususnya gejolak yang terjadi pada pasar obligasi Amerika Serikat (AS).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di rentang 6.507 hingga 6.551. Pergerakan tersebut menunjukkan indeks konsisten bertahan di teritori positif hingga perdagangan berakhir.
IHSG Naik, Transaksi Capai Rp15,3 Triliun
Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat cukup ramai. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp15,3 triliun.
Sementara itu, volume perdagangan mencapai sekitar 390 juta lot saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,25 juta kali.
Penguatan IHSG juga diikuti sejumlah indeks saham utama. Indeks IDX30 tercatat naik 1,04 persen, sedangkan indeks LQ45 menguat 0,92 persen.
Kenaikan kedua indeks tersebut menunjukkan bahwa penguatan pasar saham turut ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps yang memiliki tingkat likuiditas tinggi.
Saham Bank Jadi Penopang IHSG
Sektor perbankan menjadi salah satu penopang penguatan IHSG pada perdagangan terakhir pekan ini. Sejumlah saham bank besar kompak menguat.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI tercatat menjadi salah satu penggerak utama setelah naik 2,87 persen.
Kemudian, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,78 persen. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga naik 1,69 persen.
Penguatan saham-saham perbankan tersebut memberikan dorongan terhadap pergerakan IHSG di tengah sentimen pasar global yang masih dinamis.
Rencana AS Borong Surat Utang Jadi Sentimen Pasar
Dari pasar global, pergerakan pasar saham turut dipengaruhi perkembangan pasar obligasi Amerika Serikat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan rencana pemerintah untuk memborong surat utang jangka panjang. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan imbal hasil atau yield obligasi di tengah kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal AS.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Departemen Keuangan AS menyiapkan operasi dengan dana sedikitnya USD4 miliar.
Rencana tersebut kemudian memicu aliran dana menuju instrumen yang dinilai lebih berisiko, termasuk komoditas dan pasar saham negara-negara berkembang atau emerging markets.
Halaman Selanjutnya
Sentimen tersebut turut menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan pasar saham Indonesia pada perdagangan Jumat.

6 hours ago
1

















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)
