Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI Terapkan PJJ Bagi Seluruh Sekolah Mulai 7 September

1 week ago 8

Minggu, 6 September 2026 - 16:25 WIB

Jakarta, VIVA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai Senin, 7 September 2026 untuk seluruh satuan pendidikan di Jakarta menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terdeteksi mencapai wilayah DKI Jakarta.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana, mengatakan penerapan PJJ bukan berarti kegiatan pendidikan dihentikan. Pembelajaran tetap berlangsung dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing peserta didik.

“Kami ingin memastikan anak-anak tetap belajar dalam suasana yang aman dan nyaman. Karena itu, untuk sementara pembelajaran dilakukan dari rumah. Orang tua tidak perlu panik, karena proses pembelajaran tetap berjalan,” ujarnya di Jakarta, Minggu, 6 September 2026.

Menurut Nahdiana, untuk memastikan pelaksanaan PJJ berjalan dengan baik, Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan seluruh satuan pendidikan dan melakukan pendampingan, pemantauan pelaksanaan proses pembelajaran serta memberikan alternatif apabila terjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran.

“Keselamatan dan kesehatan anak-anak adalah prioritas. Kami juga mengimbau orang tua mendampingi anak selama belajar dari rumah dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi,” tuturnya.

Dinas Pendidikan juga terus berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait dan memantau perkembangan kondisi udara serta informasi resmi mengenai sebaran abu vulkanik. Kebijakan pembelajaran akan dievaluasi sesuai perkembangan situasi.

Pemprov DKI mengajak masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Warga diimbau mengikuti arahan pemerintah serta menjaga kesehatan keluarga selama kondisi ini berlangsung.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagai informasi, Badan Geologi menyatakan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau pascaerupsi pada tahun 2018 masih relatif kecil. Menurut Badan Geologi, secara morfologi, Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi runtuh yang dapat memicu gelombang tsunami.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dalam konferensi pers, Minggu, 6 September 2026.

Halaman Selanjutnya

Lana menjelaskan tidak setiap kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau bakal memicu tsunami. Ia menyebut tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 utamanya berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar. Maka, bukan semata-mata karena erupsi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |