India Tidak akan Dibiarkan Kuat seperti China

3 hours ago 2

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:59 WIB

Jakarta, VIVA - Wakil Menteri Luar Negeri Christopher Landau mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) berupaya memperluas hubungan dengan India tetapi tidak akan membiarkan negara itu muncul sebagai pemimpin ekonomi yang kuat seperti China.

Ia juga menyampaikan peringatan tentang bagaimana Washington DC memandang hubungannya dengan New Delhi, menekankan bahwa AS tidak akan mengadopsi pendekatan yang mirip dengan kebijakan terhadap China pada dua dekade lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“India harus memahami bahwa kami tidak akan membuat kesalahan yang sama seperti yang kami buat dengan China 20 tahun lalu, yaitu dengan mengatakan, 'Oh, kami akan membiarkan Anda mengembangkan semua pasar ini, dan kemudian, yang terjadi selanjutnya adalah Anda mengalahkan kami dalam banyak kegiatan komersial,'” katanya, seperti dikutip dari situs Russia Today, Kamis, 12 Maret 2026.

Meski begitu, Landau memastikan hubungan perdagangan dan ekonomi dengan India adil bagi warga AS, di mana negosiasi kesepakatan perdagangan keduanya "hampir mencapai tahap akhir".

Washington DC memandang keputusannya pada 2001 untuk memfasilitasi masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai kesalahan perhitungan strategis yang menyebabkan terkikisnya pengaruh industri.

Masuknya impor dari China juga menyebabkan hilangnya jutaan pekerjaan manufaktur Amerika, menurut sebuah lembaga kajian AS.

Beberapa pembuat kebijakan mengklaim bahwa AS gagal mengendalikan subsidi negara dan praktik non-pasar Beijing, sehingga memungkinkan China untuk mengganggu tatanan global yang dipimpin AS melalui transfer teknologi sebagai imbalan atas akses pasar.

Hubungan AS-China telah tegang selama bertahun-tahun, terutama terkait masalah ekonomi dan teknologi, tetapi kenaikan tarif yang dilakukan Presiden AS Donald Trump tahun lalu memicu perang dagang skala penuh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai presiden, AS telah mengejar pendekatan 'Amerika Pertama' dalam negosiasi bilateral dan perdagangan, termasuk dengan negara-negara dan blok seperti India, China, dan Uni Eropa.

New Delhi dan Washington telah bernegosiasi mengenai kesepakatan perdagangan selama lebih dari setahun. Pada Februari 2026, kedua negara mengumumkan tercapainya kesepakatan sementara yang menghapus tarif "hukuman" sebesar 25 persen terhadap India atas impor minyak Rusia.

Halaman Selanjutnya

Pada saat yang sama, India menunda pengiriman delegasi ke AS untuk menyelesaikan kesepakatan setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif impor yang diberlakukan Trump.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |