VIVA – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian kesehatan global. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, termasuk di Asia Tenggara.
Tingginya mobilitas penduduk, perubahan iklim, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk menjadi faktor yang turut memengaruhi peningkatan risiko penularan dengue.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa dengue masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di dunia. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 14,6 juta kasus dengue secara global dengan sekitar 12.000 kematian.
Angka ini menunjukkan bahwa penyakit tersebut masih menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Scroll untuk info lebih lanjut...
Di Indonesia, dampak dengue juga cukup signifikan. Berdasarkan data dari BPJS Kesehatan pada tahun 2024, tercatat 1.055.255 kasus rawat inap akibat dengue di luar kejadian luar biasa (KLB). Selain dampak kesehatan, penyakit ini juga menimbulkan beban ekonomi yang tidak kecil, dengan total biaya yang mencapai hampir Rp3 triliun pada tahun yang sama.
Situasi tersebut mendorong Takeda, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), dan Palang Merah Indonesia (PMI) meluncurkan inisiatif aliansi “United Against Dengue: Penguatan Kemitraan untuk Pencegahan Dengue dan Peningkatan Ketangguhan Masyarakat”.
“Sebagai mitra jangka panjang bagi Indonesia, Takeda berkomitmen untuk melawan DBD/dengue melalui kemitraan publik-swasta yang kuat guna mendukung tercapainya tujuan besar pemerintah Indonesia untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030," kata Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, di Kantor Pusat PMI, Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
![]()
"Melalui aliansi ini, kami ingin mendorong penguatan upaya pencegahan melalui edukasi yang menjangkau berbagai elemen masyarakat dan komunitas di Indonesia bersama dengan para pemangku kepentingan terkait," sambungnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Inisiatif tersebut berfokus pada penguatan pencegahan, kesiapsiagaan, serta intervensi berbasis masyarakat. Pendekatan yang digunakan mencakup kolaborasi multisektor, penggunaan strategi berbasis bukti, serta peningkatan keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan dengue.
"Kami berharap, komitmen bersama tersebut dapat memperkuat aksi di tingkat komunitas, di tengah masyarakat, dalam menghadapi ancaman DBD/dengue yang ada sepanjang tahun di Indonesia," kata dia.
Halaman Selanjutnya
Perwakilan dari International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), Kathryn Clarkson, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi dampak penyakit ini.

3 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
