Industri Sawit RI Berisiko Tersalip Malaysia, Faktor Ini Diam-diam Jadi Kunci

4 hours ago 3

Senin, 30 Maret 2026 - 21:45 WIB

Jakarta, VIVA – Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi persaingan global yang semakin ketat. Meski Indonesia masih menjadi produsen terbesar dunia, namun di sisi lain tekanan dari negara pesaing seperti Malaysia terus meningkat, baik dari sisi produktivitas, efisiensi, maupun kualitas pengelolaan industri.

Terkait hal ini, penguatan faktor non-komoditas mulai menjadi perhatian utama. Tidak hanya soal lahan dan produksi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dinilai akan menentukan keberlanjutan dan daya saing industri dalam jangka panjang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal tersebut diungkap Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung. Ia mengatakan, pengembangan SDM merupakan elemen krusial yang tidak bisa diabaikan dalam transformasi industri sawit nasional.

Ia menjelaskan, pengembangan SDM harus mampu menjawab berbagai tantangan industri kelapa sawit yang semakin kompleks. Pengembangan SDM juga harus berperan aktif dalam menciptakan sistem industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

"Selain meningkatkan kualitas SDM saat ini, pengembangan tersebut harus mampu memenuhi kebutuhan industri kelapa sawit pada masa mendatang," ujarnya sebagaimana dikutip dari siaran pers, Senin, 30 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa pengembangan SDM kelapa sawit perlu mencakup aspek kualitas, keragaman keterampilan, serta ketersediaan tenaga kerja yang memadai. Menurutnya, kebutuhan industri tidak lagi sederhana, melainkan menuntut kemampuan teknis, manajerial, hingga adaptasi terhadap teknologi baru di sektor perkebunan.

Lebih lanjut, Tungkot menyoroti peran strategis Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP)dalam mendukung penguatan SDM. Lembaga ini dinilai telah menjalankan fungsi penting melalui program beasiswa dan pelatihan yang menyasar generasi muda, khususnya anak-anak petani sawit.

Program tersebut dijalankan bersama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dengan tujuan menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya siap pakai, tetapi juga mampu membawa inovasi ke dalam industri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan data tahun 2025, sebanyak 13.265 peserta telah memperoleh beasiswa untuk pengembangan SDM industri sawit di berbagai perguruan tinggi. Selain itu, program pelatihan teknis telah menjangkau sekitar 32.152 petani kelapa sawit di berbagai daerah.

Untuk tahun 2026, BPDP menargetkan kuota beasiswa mencapai 5.000 mahasiswa baru dengan fokus pada penguatan kompetensi di bidang teknis dan teknologi perkebunan. Langkah ini dinilai penting untuk mengejar ketertinggalan dalam aspek kualitas tenaga kerja.

Halaman Selanjutnya

Meski demikian, Tungkot menilai upaya tersebut masih belum cukup jika dibandingkan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. Ia pun mendorong agar pengembangan SDM dilakukan secara lebih masif dan terintegrasi, mengingat tantangan ke depan tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga standar global, isu keberlanjutan, hingga tekanan pasar internasional.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |