Ini Proposal Terbaru Iran yang Bikin Trump Uring-uringan, Ancam Lanjutkan Perang?

3 days ago 3

VIVA – Upaya mengakhiri konflik Iran kembali menemui jalan buntu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal terbaru dari Teheran. Seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal Gedung Putih menyebut Trump tidak puas karena Iran meminta pembahasan soal program nuklir ditunda hingga perang berakhir.

Menurut sumber tersebut, Trump menginginkan isu nuklir dibahas sejak awal perundingan, bukan menjadi tahap lanjutan seperti yang diusulkan Iran. Melalui unggahan di Truth Social pada Selasa, Trump menyinggung kondisi internal Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam 'Keadaan Runtuh'. Mereka ingin kami 'Membuka Selat Hormuz' sesegera mungkin, karena mereka mencoba mencari solusi untuk situasi kepemimpinan mereka (yang saya yakini akan dapat mereka lakukan!)."

Tidak jelas bagaimana Iran menyampaikan pesan tersebut kepada AS, dan hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Teheran atas pernyataan Trump.

Gedung Putih mengkonfirmasi Presiden AS Donald Trump telah bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pada Senin, untuk membahas proposal terbaru Iran. "Proposal tersebut sedang dibahas," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan selama konferensi pers, Senin.

"Saya tidak ingin mendahului presiden atau tim keamanan nasionalnya. Yang akan saya ulangi adalah bahwa garis merah presiden sehubungan dengan Iran telah dibuat sangat, sangat jelas, tidak hanya kepada publik Amerika, tetapi juga kepada mereka," tambahnya.

Pernyataannya muncul di tengah meningkatnya upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali pembicaraan antara Washington dan Teheran setelah berminggu-minggu perang dan negosiasi yang gagal.

Trump tidak langsung menolak proposal tersebut. Namun, dia menilai Iran tidak menunjukkan itikad baik dalam negosiasi, terutama karena belum bersedia menghentikan pengayaan uranium atau berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Teheran serius untuk mencapai kesepakatan dengan Washington, tetapi menekankan bahwa setiap perjanjian harus mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

"Kita harus memastikan bahwa setiap kesepakatan yang dibuat… secara definitif mencegah mereka untuk bergegas menuju senjata nuklir kapan pun," ujarnya

Sebelumnya, juru bicara militer Iran mengatakan kepada media pemerintah bahwa Republik Islam tidak menganggap perang telah berakhir.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari, Iran membatasi hampir seluruh pelayaran di Selat Hormuz kecuali bagi kapal-kapalnya sendiri. Selat ini merupakan jalur vital pasokan energi dunia. Pada bulan yang sama, Amerika Serikat mulai melakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran.

Harapan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian semakin memudar setelah Trump pekan lalu membatalkan kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, dan menantunya Jared Kushner, ke Pakistan yang direncanakan menjadi mediator.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bolak-balik ke Islamabad dua kali selama akhir pekan untuk mendorong jalur diplomasi.

Sejumlah pejabat dan analis Iran menyebut dinamika internal kepemimpinan Teheran turut memengaruhi kerasnya posisi negosiasi. Setelah beberapa tokoh politik dan militer senior Iran tewas dalam serangan AS-Israel, struktur kekuasaan di Teheran dinilai tidak lagi memiliki satu figur ulama penengah yang dominan.

Disebutkan pula bahwa tewasnya Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang dan pengangkatan putranya yang terluka, Mojtaba, sebagai pemimpin tertinggi, membuat komandan garis keras Korps Garda Revolusi Islam memperoleh pengaruh lebih besar.

Proposal Terbaru Iran

Para pejabat senior Iran yang berbicara secara anonim kepada Reuters mengungkapkan bahwa proposal yang dibawa Araqchi ke Islamabad mengusulkan perundingan bertahap.

Tahap pertama adalah penghentian perang disertai jaminan bahwa AS tidak akan memulainya kembali. Setelah itu, negosiasi akan berfokus pada blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz di bawah kendali Iran.

Baru pada tahap berikutnya, pembahasan akan menyentuh isu-isu lain, termasuk sengketa lama mengenai program nuklir Iran. Dalam hal ini, Teheran menginginkan pengakuan AS atas haknya untuk memperkaya uranium.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Skema ini dinilai mengingatkan pada kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara lain yang secara ketat membatasi program nuklir Teheran. Trump sebelumnya menarik AS secara sepihak dari kesepakatan tersebut pada masa jabatan pertamanya.

Kini, Trump menghadapi tekanan domestik untuk mengakhiri perang yang dinilai tidak populer. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap Trump turun menjadi 34 persen dari sebelumnya 36 persen, di tengah meningkatnya kekecewaan warga Amerika atas biaya hidup dan konflik yang berkepanjangan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian

Momen Presiden Iran Turun Tangan Tolong Pasien Bedah Jantung

Nama presiden Iran, Masoud Pezeshkian tengah ramai diperbincangkan menyusul beredarnya videonya tengahg melakukan prosedur operasi bedah jantung di sebuah rumah sakit

img_title

VIVA.co.id

29 April 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |