Jaksa Agung Menggugat, Meta Berani Melawan

3 weeks ago 5

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:04 WIB

Jakarta, VIVA - Jaksa Agung mengajukan gugatan hukum kepada Meta karena menuduh klaim bahwa pesan WhatsApp dienkripsi dan tidak dapat diakses pihak ketiga, termasuk karyawannya sendiri.

Jaksa Agung yang dimaksud adalah Ken Paxton dari Negara Bagian Texas, Amerika Serikat (AS). Ia telah mengajukan gugatan yang disebutnya sebagai gugatan 'bersejarah' terhadap Meta.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aplikasi pesan instan terpopuler di dunia tersebut, yang diakuisisi oleh Meta pada 2014, menyatakan di situs resminya bahwa 'tidak seorang pun di luar obrolan, bahkan pihak WhatsApp sekali pun, dapat membaca, mendengarkan, atau membagikan apa yang dikatakan pengguna'.

Kantor Kejaksaan Agung Texas mengumumkan kalau Ken Paxton telah memulai proses hukum terhadap Meta, yang menuduh perusahaan teknologi milik Mark Zuckerberg tersebut telah 'menyesatkan konsumen mengenai kekuatan dan cakupan perlindungan privasi' untuk WhatsApp.

Gugatan tersebut menyatakan bahwa materi promosi Meta yang mengklaim menggunakan enkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end encryption) 'telah membuat jutaan pengguna percaya bahwa komunikasi mereka sepenuhnya bersifat pribadi'.

Kantor Kejaksaan Agung Texas, dengan mengutip laporan media dan keterangan informan seperti dilansir dari Russia Today, Minggu, 24 Mei 2026, berpendapat bahwa klaim tersebut sangat tidak akurat dan merupakan penyalahgunaan total dan menyeluruh terhadap kebijakan privasi Meta.

Tidak terima. Juru Bicara Meta Andy Stone bersumpah akan melawan gugatan hukum Jaksa Agung Ken Paxton, dan menegaskan jika 'WhatsApp tidak dapat mengakses komunikasi terenkripsi orang lain dan setiap anggapan yang bertentangan dengan hal itu adalah salah'.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya, terjadi gugatan class-action besar yang diajukan di Pengadilan Distrik AS oleh sekelompok penggugat internasional terhadap Meta terkait enkripsi ujung-ke-ujung bawaan WhatsApp.

Para penggugat, dengan mengutip informan yang tidak disebutkan namanya, menuduh bahwa Meta dan WhatsApp menyimpan, menganalisis, dan dapat mengakses hampir semua komunikasi yang konon 'pribadi' milik pengguna.

Pendiri Meta Mark Zuckerberg.

Meta PHK 8.000 Karyawan demi Kecerdasan Buatan, Mari Zuckerberg: AI Teknologi Paling Penting di Hidup Kita

Meta memangkas 8.000 karyawan dan mengalihkan fokus ke AI. Mark Zuckerberg menyebut persaingan teknologi kini makin ketat. Baca di sini selengkapnya yuk

img_title

VIVA.co.id

22 Mei 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |