Jangan Langsung Setop Gula! Dokter Ungkap Cara Aman Kurangi Kebiasaan Makan Manis

5 hours ago 3

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 21:15 WIB

VIVA – Keinginan menyantap makanan atau minuman manis setelah makan sering dianggap sebagai kebiasaan kecil yang tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika dorongan tersebut terus berulang hingga membuat seseorang merasa ada yang kurang tanpa makanan manis, kondisi itu bisa menjadi tanda tubuh mulai terbiasa dengan asupan gula berlebih.

Spesialis Gizi Klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK, menjelaskan, pola konsumsi gula yang berlebihan dapat terbentuk sejak usia dini. Paparan makanan dan minuman tinggi gula di lingkungan keluarga membuat anak terbiasa dengan rasa manis bahkan sejak balita.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu temuan yang menjadi perhatian berasal dari survei Universitas Islam Bandung (UNISBA). Dalam survei tersebut, sebanyak 67,6 persen orang tua disebut memberikan kental manis kepada balita sebagai pengganti asupan susu harian.

Padahal, kental manis bukan ditujukan sebagai pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi tumbuh kembang anak. Produk tersebut lebih tepat digunakan sebagai pelengkap sajian dan memiliki kandungan gula yang tinggi.

Menurut dr. Yaze, paparan gula dalam jumlah tinggi sejak usia dini dapat membuat tubuh dan otak terbiasa mendapatkan asupan manis secara rutin. Kebiasaan tersebut kemudian berpotensi terbawa hingga anak tumbuh dewasa.

Sering Ingin yang Manis Usai Makan

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya keinginan kuat untuk kembali mengonsumsi makanan manis meski sudah menyelesaikan makanan utama.

"Misalnya kayak habis makan terus akan merasa ingin makan manis lagi. Kalau enggak dituruti kayak masih ada yang kurang. Atau misalnya jadi seharian nggak mood. Itu sudah tanda-tanda kebiasaan makan gula," terang dr. Yaze dalam keterangannya, dikutip Sabtu 22 Agustus 2026. 

Dorongan tersebut, kata dia, tidak selalu sekadar keinginan ngemil. Ketika tubuh sudah terbiasa memperoleh gula dalam jumlah tertentu, seseorang dapat merasa tidak nyaman ketika asupan tersebut dikurangi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini menjadi salah satu alasan kebiasaan mengonsumsi makanan manis perlu diperhatikan sejak anak-anak. Pola makan yang terbentuk dalam keluarga dapat memengaruhi preferensi rasa serta kebiasaan makan seseorang dalam jangka panjang.

Meski begitu, dr. Yaze tidak menyarankan masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula langsung menghentikannya secara total. Metode pengurangan secara mendadak atau cold turkey justru dapat membuat tubuh kesulitan beradaptasi.

Halaman Selanjutnya

"Kalau untuk menghilangkannya tiba-tiba, nanti mood-nya jadi enggak bagus seharian gara-gara enggak makan gula," jelasnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |