JP Morgan Posisikan RI di Peringkat Kedua Soal Ketahanan Energi, Bahlil Ungkap Faktanya

4 hours ago 2

Kamis, 30 April 2026 - 14:30 WIB

Jakarta, VIVA JP Morgan Asset Management dalam laporan 'Eye on the Market', menempatkan Indonesia di posisi kedua dalam daftar negara terbaik di dunia, yang mempunyai ketahanan energi di tengah dinamika dan ketidakpastian seluruh pasokan energi global saat ini.

Laporan yang menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia itu, menempatkan Indonesia satu posisi di bawah Afrika Selatan dan satu tingkat di atas Tiongkok yang berada di posisi ketiga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Merespons hal tersebut, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan, di tengah kondisi geopolitik hari ini yang melahirkan ketidakpastian terhadap seluruh pasokan energi global, hampir semua negara di dunia turut merasakan dampak dari situasi tersebut.

"Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi," kata Bahlil dalam keterangannya, Kamis, 30 April 2026.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia

Photo :

  • [Mohammad Yudha Prasetya]

JP Morgan menilai Indonesia sebagai negara yang tahan krisis energi yang terjadi saat ini, karena produksi domestik minyak dan gas bumi (migas) yang cukup besar. Ketahanan terhadap krisis juga disebabkan produksi dan cadangan batubara Indonesia, yang masih dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain itu, potensi energi baru dan terbarukan (EBT) yang besar di seluruh wilayah Indonesia, juga mampu menopang kemandirian energi Indonesia.

Hal itu pun diamini oleh Bahlil. Dia menyampaikan, dari subsektor migas nasional, ketahanan energi didukung oleh pencapaian lifting minyak Indonesia pada 2025 yang mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Sehingga, di tahun 2026 ini targetnya pun ditingkatkan menjadi 610 ribu bph.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk meningkatkan produksi lifting, Bahlil memastikan bahwa pemerintah telah mendorong optimalisasi produksi melalui teknologi lanjutan, reaktivasi sumur idle, dan eksplorasi potensi migas di Indonesia Timur.

Temuan terbaru, hasil eksplorasi sumur Geliga-1 di Blok Ganal lepas pantai Kalimantan Timur, mengungkap adanya potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat. Temuan ini berada di Wilayah Kerja (WK) Ganal yang dioperasikan ENI dan Sinopec.

Halaman Selanjutnya

"Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029," ujar Bahlil.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |