Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:38 WIB
VIVA – Kamboja telah menutup lebih dari 700 jaringan penipuan online dalam operasi penertiban selama setahun terakhir, menahan hampir 30.000 tersangka termasuk sejumlah pejabat senior pemerintah.
Negara di Asia Tenggara ini muncul sebagai pusat sindikat kejahatan siber yang menjalankan skema hubungan romantis palsu dan investasi aset kripto di mana para penipu - sebagian sukarela, sebagian lagi diperdagangkan - menipu pengguna internet di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, di bawah tekanan dari beberapa negara termasuk Amerika Serikat (AS) dan China, pihak berwenang Kamboja mengatakan mereka sedang menindak industri tersebut.
Sebuah pernyataan resmi pemerintah, dikutip dari CNA, Jumat, 28 Agustus 2026, mengatakan bahwa pihak berwenang telah membersihkan lebih dari 700 kompleks dan mendeportasi 58.266 warga negara asing selama tahun lalu.
Disebutkan pula bahwa hampir 30.000 tersangka telah ditangkap, termasuk 15 pejabat tinggi dan petugas penegak hukum. Lebih dari 3.400 tersangka dari 29 warga negara, termasuk China, Vietnam, Australia, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Thailand, berada dalam tahanan menunggu persidangan.
"Meskipun lokasi-lokasi berskala besar telah sepenuhnya dibersihkan, kelompok-kelompok kriminal telah mengubah taktik mereka menjadi kegiatan berskala kecil dan terdesentralisasi, bersembunyi di wisma tamu, kondominium, rumah sewa, kendaraan, dan kedai kopi," kata pemerintah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pada Januari 2026, Kamboja mengekstradisi Chen Zhi, yang diduga sebagai bos penipuan dan merupakan ketua konglomerat Kamboja bernilai miliaran dolar AS, Prince Holding Group, yang lahir di China, ke negaranya setelah ia dikenai sanksi oleh pemerintah AS dan Inggris.
Lalu, empat bulan kemudian, atau April, Kamboja juga mengekstradisi Li Xiong, mantan ketua Huione Group kelahiran China, ke negaranya. Beijing menuduh Xiong memainkan peran kunci dalam sindikat perjudian dan penipuan transnasional besar.
390 Orang Tewas dan Ribuan Masih Hilang Akibat Banjir-Longsor di Perbatasan Nepal-China
Lebih dari 1.400 orang dilaporkan hilang dan ratusan lainnya tewas setelah banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di perbatasan antara Nepal dan Tibet China
VIVA.co.id
28 Agustus 2026

2 weeks ago
13













