Sulawesi Selatan, VIVA – Seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2026 di Sulawesi Selatan mendadak jadi sorotan publik.
Polemik muncul setelah seorang siswi asal Makassar yang disebut memiliki nilai tinggi justru gagal lolos ke tingkat nasional dan digantikan peserta lain di hasil akhir seleksi. Dugaan adanya “peserta titipan” hingga isu diskriminasi pun ramai diperbincangkan di media sosial.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ilustrasi Seleksi Paskibraka
Nama Cathlyn Yvaeni Lesmana, siswi SMA asal Makassar, menjadi pusat perhatian setelah kabarnya sempat masuk dalam kandidat kuat delegasi nasional. Namun di hasil akhir, namanya justru tidak tercantum sebagai wakil Sulawesi Selatan untuk seleksi tingkat pusat.
Polemik semakin panas setelah beredar informasi bahwa Cathlyn memperoleh nilai sangat tinggi pada sejumlah tahapan tes. Dalam laporan yang beredar, ia disebut meraih nilai sempurna 100 untuk tes wawasan kebangsaan dan nilai 95 pada tes intelegensi umum.
Hasil tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan alasan dirinya tidak lolos ke tahap nasional. Di media sosial, muncul dugaan adanya pergantian peserta secara tidak transparan.
"Kasihan ya peserta Top 3-nya, terus apa gunanya rangking kalau akhirnya yang dipilih bukan unggulan," tulis keterangan video yang beredar di TikTok @Friska_32, dikutip VIVA Selasa, 26 Mei 2026.
Sejumlah netizen bahkan menuding proses seleksi tidak sepenuhnya objektif dan sarat kepentingan tertentu. Narasi soal “orang titipan” pun mulai ramai dibahas, meski hingga kini belum ada bukti resmi yang menguatkan tudingan tersebut.
"Kalau memang sudah ada titipan tidak perlu diadakan seleksi karena hal seperti ini akan merusak mental anak-anak," tulis komentar warganet dalam unggahan tersebut.
"Saya yang diseleksi bener bener enggak lolos aja mentalnya kena banget, apalagi yang lolos karena diganti orang nggak kebayang," timpal warganet lainnya.
Muncul Dugaan Diskriminasi dan Rasisme
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Polemik semakin sensitif karena berkembang isu bahwa peserta yang gagal lolos tersebut merupakan satu-satunya peserta keturunan Tionghoa dalam seleksi tingkat provinsi. Dugaan diskriminasi rasial dan rasisme terselubung pun ikut mencuat.
Akun resmi DPPI Kota Makassar bahkan sempat mengunggah pernyataan yang menegaskan bahwa segala bentuk diskriminasi dan rasisme bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Meski tidak menyebut nama secara langsung, unggahan itu diduga berkaitan dengan polemik seleksi Paskibraka yang sedang ramai diperbincangkan.
Halaman Selanjutnya
Isu tersebut memancing reaksi publik karena ajang Paskibraka selama ini dianggap sebagai simbol persatuan dan kebhinekaan nasional.

2 weeks ago
4














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)