Keluarga Petani Tolak Jual Tanah 216 Hektare seharga Rp430 Miliar untuk Data Center

4 hours ago 1

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:59 WIB

VIVA – Sebuah keluarga petani di pedesaan Kentucky, Amerika Serikat (AS), menolak tawaran senilai US$26,48 juta atau Rp430 miliar untuk menjual lahan mereka demi pembangunan pusat data (data center) berskala besar.

Keputusan tersebut menjadikan mereka bagian dari gelombang penolakan masyarakat terhadap ekspansi pusat data yang didorong pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) di AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut laporan The Wall Street Journal, Delsia Bare, 54 tahun, dan ibunya, Ida Huddleston, 83 tahun, mendapat tawaran Rp430 miliar untuk lahan pertanian mereka seluas kurang lebih 216 hektare di Maysville, Kentucky. Nilai tersebut disebut hampir 10 kali lipat dari perkiraan harga pasar terbuka lahan tersebut.

Bare dan Huddleston pada awalnya bersedia menjual tanah tersebut. Namun, keputusan itu berubah setelah mereka mengetahui bahwa lahan keluarga mereka akan menjadi bagian dari proyek hyperscale data center berkapasitas sekitar 2,2 gigawatt (GW).

Besarnya kapasitas listrik proyek itu menggambarkan skala fasilitas yang direncanakan. Pusat data modern berskala hyperscale membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan ribuan hingga ratusan ribu server, sistem pendingin, jaringan, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Perusahaan yang berada di balik proyek tersebut belum diumumkan secara resmi. Namun, berdasarkan dokumen publik yang ditelusuri The Wall Street Journal, proyek itu diduga berkaitan dengan Meta. Meta sendiri mengatakan belum ada keputusan final mengenai pembangunan di wilayah tersebut.

Tanah keluarga selama hampir 200 tahun

Bagi Bare dan Huddleston, persoalannya bukan sekadar nilai jual tanah. Lahan tersebut telah dimiliki keluarga mereka sejak 1848 dan diwariskan lintas generasi. Selama bertahun-tahun, tanah itu digunakan untuk beternak sapi serta menanam tembakau dan berbagai tanaman lainnya.

Pembangunan pusat data (data center) akan mengubah fungsi lahan pertanian tersebut menjadi bagian dari kompleks industri teknologi berskala besar, seperti dilansir dari Russia Today.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kampus data center umumnya tidak hanya terdiri dari gedung server, tetapi juga membutuhkan gardu listrik, sistem pendingin, generator cadangan, baterai, jaringan distribusi listrik, serta berbagai fasilitas pendukung yang beroperasi sepanjang waktu.

Sejumlah pemilik lahan di sekitar lokasi justru memilih menerima tawaran. Kesepakatan pembelian dari beberapa pemilik tanah disebut mencapai total sekitar US$110 juta atau Rp...

Halaman Selanjutnya

Namun, gugatan hukum yang diajukan Bare dan pihak-pihak yang menentang proyek membuat proses transaksi dan pembayaran kepada sebagian pemilik lahan tertunda. Proyek tersebut kemudian memicu perpecahan di Maysville.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |