Kemenkes Ungkap Kasus Percobaan Bunuh Diri pada Siswa Naik 2,7 Kali Lipat!

1 week ago 10

Jumat, 4 September 2026 - 16:42 WIB

Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan bahwa ada kenaikan hingga 2,7 kali lipat pada percobaan bunuh diri pada siswa, yang menunjukkan pentingnya penanganan persoalan kesehatan mental sejak dini.

Dante menjelaskan bahwa data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan, pada 2015, sebanyak 3,9 persen siswa mencoba mengakhiri hidupnya, sementara pada 2023 angka itu naik jadi 10,7 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Di siswa sekolah yang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri itu ternyata naik 1,6 kali lipat. Hampir dua kali lipat percobaan bunuh diri dan pikiran bunuh diri yang ada di siswa," kata Dante di Jakarta, Jumat, 4 September 2026.

Menurut Dante, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kasus bunuh diri yang terlihat hanya merupakan sebagian dari persoalan kesehatan jiwa yang terjadi di masyarakat. Dia mengibaratkan fenomena tersebut seperti gunung es, dengan jumlah orang yang melakukan percobaan bunuh diri lebih besar dibandingkan mereka yang akhirnya meninggal akibat bunuh diri.

"Satu dari 10 siswa itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dan usia 11-17 merupakan usia yang rentan untuk mencoba untuk bunuh diri di kelompok usia yang kita lihat dan kita evaluasi," katanya.

Gangguan jiwa, kata Dante, merupakan urutan kedua faktor yang dapat memengaruhi kualitas hidup, setelah gangguan otot dan rangka. Gangguan jiwa dapat dialami siapa saja dan tidak selalu terlihat secara fisik. Satu dari tujuh orang di dunia, katanya, hidup dengan gangguan kejiwaan.

Dia pun mengingatkan masyarakat untuk mengenali perubahan kondisi fisik, emosi, maupun perilaku yang berlangsung secara konsisten selama dua minggu. Sejumlah tanda yang perlu diperhatikan antara lain gangguan tidur, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi, serta perubahan pola bicara dan aktivitas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kalau ini berlangsung selama dua minggu dari gangguan fisik, emosi, dan perilaku, sulit konsentrasi, perubahan pola bicara, dan aktivitas yang mencolok lebih dari dua minggu. Maka harus cepat-cepat diidentifikasi sebagai kelainan jiwa," katanya.

Oleh karena itu, kata Dante, masalah kesehatan mental, seperti gejala depresi dan cemas pada anak, perlu ditemukan lebih dini lagi, seperti melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Halaman Selanjutnya

Bahkan, katanya, menjaga kesehatan jiwa perlu dimulai sejak awal kehidupan, yakni ketika ibu sedang hamil atau dalam masa nifas.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |