Kenapa Abu Vulkanik Bisa Bikin Pesawat Kehilangan Daya?

1 week ago 2

Senin, 7 September 2026 - 11:55 WIB

VIVA – Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada wilayah di sekitar gunung api, tetapi juga menjadi perhatian serius bagi dunia penerbangan. Abu vulkanik yang terbawa angin hingga ketinggian tertentu dapat masuk ke jalur penerbangan dan membahayakan pesawat. Situasi tersebut membuat sejumlah bandara di Indonesia ditutup sementara. 

Erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri mulai terjadi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. Berdasarkan catatan BMKG, material abu vulkanik dari erupsi tersebut dapat mencapai ketinggian hingga 20.000 kaki dan bergerak ke sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu dilaporkan bergerak menuju Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.

Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat?

Berbeda dengan debu biasa, abu vulkanik mengandung partikel batuan dan mineral yang sangat halus. Ketika pesawat melintasi awan abu, partikel tersebut dapat masuk ke dalam mesin dan menimbulkan berbagai gangguan.

Salah satu risiko paling serius adalah mesin kehilangan daya atau mati mesin. Partikel abu yang masuk ke mesin dapat meleleh akibat suhu tinggi di dalam ruang pembakaran. Material tersebut kemudian dapat menempel pada bagian mesin dan mengganggu aliran udara serta proses pembakaran.

Selain itu, abu vulkanik juga bersifat abrasif. Partikel tersebut dapat mengikis berbagai komponen pesawat yang terkena secara langsung.

Dampaknya antara lain:

  1. Mesin mengalami gangguan hingga kehilangan daya.
  2. Komponen mesin dan avionik mengalami erosi.
  3. Filter serta saluran pipa dapat tersumbat.
  4. Kualitas bahan bakar dapat terdampak.
  5. Kaca depan pesawat dapat mengalami abrasi sehingga mengganggu pandangan pilot.
  6. Permukaan logam dapat mengalami korosi akibat material yang bersifat asam.

Risiko tersebut menjadi alasan mengapa keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan tidak bisa dianggap sepele.

Dunia Penerbangan Pernah Mengalami Insiden Serius

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahaya abu vulkanik terhadap pesawat bukan sekadar teori. Salah satu peristiwa yang menjadi pelajaran penting bagi dunia penerbangan terjadi setelah erupsi Gunung Galunggung di Tasikmalaya pada 1982.

Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways B747 yang sedang terbang dari Kuala Lumpur menuju Perth mengalami kehilangan daya pada keempat mesinnya ketika berada di ketinggian sekitar 11.300 meter.

Halaman Selanjutnya

Pesawat tersebut kemudian meluncur turun selama sekitar 16 menit hingga ketinggiannya mencapai 3.650 meter. Beruntung, pilot berhasil menyalakan kembali tiga mesin dan melakukan pendaratan darurat di Jakarta.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |