Kamis, 30 April 2026 - 16:50 WIB
VIVA – Perkiraan biaya perang Amerika Serikat melawan Iran sebesar 25 miliar dolar atau setara Rp 400 triliun semakin dipertanyakan. Dalam sebuah laporan terbaru angka yang disampaikan Pentagon itu disebut menyesatakan karena biaya sebenarnya bisa jauh lebih besar.
Berdasarkan laporan CNN Internasional yang mengutip tiga sumber anonim yang mengetahui penilaian internal, angka 25 miliar dolar yang disampaikan pejabat senior Pentagon kepada anggota Parlemen Rabu kemarin jauh di bawah kondisi yang sebenarnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Fakta-fakta baru mengungkap besarnya kerugian yang dialami AS sekaligus beban yang terus membengkak sejak perang mulai berkecamuk pada 28 Februari lalu. Sumber-sumber tersebut menyebut angka 25 miliar dolar itu belum termasuk kerusakan besar pada pangkalan militer AS di berbagai wilayah.
Salah satu sumber menambahkan, jika biaya rekonstruksi dan penggantian aset yang hancur diperhitungkan, total biaya sebenarnya bisa mencapai 40 hingga 50 miliar dolar atau setara Rp 640 hingga Rp 800 T.
Melansir laman presstv.ir, Kamis 30 April 2026, pada fase awal perang, serangan Iran di kawasan Teluk Persia menyebabkan kerusakan besar pada sedikitnya sembilan instalasi militer AS hanya dalam waktu 48 jam. Targetnya meliputi pangkalan di Bahrain, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Serangan tersebut menghancurkan sistem radar penting dan berbagai peralatan kunci lainnya, termasuk radar baterai rudal THAAD milik AS di Yordania serta fasilitas serupa di dua lokasi di Uni Emirat Arab. Sebuah pesawat pengintai Angkatan Udara AS jenis E-3 Sentry juga dilaporkan hancur dalam serangan di pangkalan udara Arab Saudi, yang menunjukkan skala dan ketepatan respons Iran.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski mengalami kerugian tersebut, pejabat keuangan Pentagon Jules “Jay” Hurst III mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata DPR AS bahwa sebagian besar dari angka 25 miliar dolar itu digunakan untuk amunisi. Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth tidak memberikan kejelasan apakah perhitungan tersebut sudah mencakup biaya perbaikan pangkalan yang rusak.
Pekan lalu, dalam pemaparan anggaran kepada media, Hurst juga mengakui bahwa Pentagon belum memiliki angka pasti terkait kerusakan fasilitas militer di luar negeri. Ia menyebut hal itu bergantung pada keputusan apakah fasilitas tersebut akan dibangun kembali atau tidak.
Halaman Selanjutnya
Ia juga mengakui bahwa biaya perbaikan belum dimasukkan dalam usulan anggaran departemen sebesar 1,5 triliun dolar atau setara Rp 24 kuadriliun untuk tahun fiskal 2027, yang berarti kenaikan belanja militer hingga 42 persen.

3 hours ago
1



























