VIVA –Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda mengalami erupsi menerus. Aktivitas vulkanik ini berlangsung sejak Jumat 4 September 2026 malam hingga Sabtu dan masih terus berlanjut hingga periode pemantauan terakhir.
Erupsi Gunung Anak Krakatau ini turut menjadi perhatian Badan Meteorologi Jepang (JMA). Dalam laporannya, JMA menyebut mendeteksi gempa dari kejauhan pada pukul 04.00 waktu setempat atau sekitar pukul 02.00 WIB. Berdasarkan hasil pemantauan, JMA menyatakan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berpotensi menimbulkan tsunami yang berdampak ke Jepang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Tidak ada perubahan permukaan laut yang signifikan yang diamati di stasiun pemantauan di Jepang maupun di luar negeri," demikian keterangan dari JMA dikutip dari The Nation, Minggu 6 September 2026.
Pemantauan JMA terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau turut disoroti peneliti senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin. Menurutnya, perhatian dunia terhadap erupsi Gunung Anak Krakatau tidak terlepas dari sejarah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883.
"Krakatau itu pernah jadi mimpi buruk dunia. Ketika krakatau meletus tahun 1883, hampir seluruh dunia merasakan imbasnya. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin. Itulah mengapa letusan anak krakatau atau krakatoa ini sudah pasti jadi perhatian dunia," tulisnya di akun X pribadinya @EYulihastin, dikutip Minggu 6 September 2026.
Lantas, seperti apa dahsyatnya letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada 1883 hingga menjadi salah satu peristiwa vulkanik yang mendapat perhatian dunia? Meletusnya gunung Krakatau di tahun 1883 menjadi salah satu letusan gunung berapi paling dahsyat dan menimbulkan dampak paling besar dalam sejarah peradaban manusia. Meletusnya gunung yang berada di Pulau Rakata ini bahkan menjadi headline pemberitaan di seluruh dunia.
Melansir laman resmi ensiklopedia Britania, Britannica.com, Minggu 6 September 2026, Gunung Krakatau berada di kawasan pertemuan Lempeng tektonik India-Australia dan Eurasia, yang dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas vulkanik dan gempa bumi tinggi. Dalam kurun waktu satu juta tahun terakhir, gunung ini membentuk kerucut vulkanik yang tersusun dari aliran batuan vulkanik yang berselang-seling dengan lapisan kerikil vulkanik dan abu. Dari dasar gunung yang berada sekitar 300 meter di bawah permukaan laut, kerucut tersebut menjulang hingga sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut.
Halaman Selanjutnya
Kemungkinan di sekitar tahun 416 Masehi, bagian puncak gunung tersebut hancur dan membentuk kaldera atau cekungan berbentuk seperti mangkuk dengan diameter sekitar 6 kilometer. Sebagian kaldera muncul ke permukaan laut dan membentuk empat pulau kecil, yakni Sertung (Verlaten) di barat laut, Lang dan Polish Hat di timur laut, serta Rakata di selatan.

1 week ago
16













