Jakarta, VIVA – Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyatakan, dengan tidak adanya impor solar setelah mandatori B50, negara dapat menghemat devisa hingga sekitar Rp 170 triliun.
"Meningkatkan devisa negara Rp170 triliun," kata Eniya di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dia memastikan, dengan adanya mandatori B-50, maka impor solar yang selama ini mencapai 18 juta kiloliter (KL) sudah dihentikan sehingga meningkatkan devisa negara.
[dok. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2024]
Photo :
- VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya
Eniya mengatakan, mandatori B50 juga berdampak pada lifting minyak, dimana saat ini produksinya sudah bisa mencapai setengahnya dari lifting minyak yang sebesar 610 barel per hari. Sehingga dipastikan bahwa produksi bahan bakar nabati ikut menyumbang hingga 300 ribu barel per hari.
Selain itu, Eniya menegaskan bahwa mandatori B50 juga berhasil meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan, khususnya bahan baku dalam negeri, dan menjadikan ketahanan energi lebih kuat.
"Kalau lifting minyak kita 610 ribu barel per day maka lifting minyak dari nabati sudah mencapai setengahnya yaitu 300 ribu barel per day," ujar Eniya.
Dia menambahkan, manfaat penggunaan biosolar juga dirasakan pada lingkungan, dimana data pihaknya mencatat bahwa hal itu dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 44,46 juta ton pada 2026.
"Tenaga kerja juga meningkat hingga 2,1 juta orang pada 2026, setelah mandatori B50," ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra menyatakan, hingga 5 September 2026, sebanyak 6.050 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau 94 persen telah menyalurkan mandatori biodiesel B50, dari total 6.412 SPBU yang ada.
"Masih 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena masih menyalurkan B40," kata Ega.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dia mengatakan, dari laporan Marketing Operation Region (MOR) yang tersebar di 8 wilayah, rata-rata sudah menyalurkan B50 di atas 90 persen. Tercatat, hanya satu MOR yang berada di Maluku dan Papua yang baru menyakurkan sebanyak 65 persen.
"Untuk di Maluku dan Papua masih menghabiskan stok B40, karena stok masih cukup banyak," ujarnya. (Ant).
Uji Coba di Kendaraan Bermotor Tembus 50 Ribu Km, ESDM: Bahan untuk B50 Terbukti Bagus!
Sebelum mandatori B50 diterapkan secara luas, Kementerian ESDM telah melakukan pengujian untuk sejumlah kendaraan baik pribadi, umum, tambang maupun mesin pembangkit.
VIVA.co.id
9 September 2026

5 days ago
12













