Mark Zuckerberg Rugi Rp68 Triliun dari Metaverse, Ini yang Terjadi di Meta

1 day ago 1

Kamis, 30 April 2026 - 13:10 WIB

Jakarta, VIVA – Perusahaan teknologi raksasa Meta Platforms kembali mencatat kerugian besar dari divisi metaverse mereka, Reality Labs, pada kuartal pertama 2026. Meski perusahaan mulai mengalihkan fokus ke kecerdasan buatan (AI), proyek dunia virtual tersebut masih menjadi “lubang uang” yang belum menunjukkan tanda-tanda profitabilitas.

Melansir dari CNBC, Kamis, 30 April 2026, dalam laporan keuangan terbarunya, Meta mengungkap bahwa Reality Labs mencatat kerugian operasional sebesar US$4,03 miliar atau sekitar Rp68,51 triliun (kurs Rp17.000). Sementara itu, pendapatan dari divisi ini hanya mencapai US$402 juta atau sekitar Rp6,83 triliun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Angka ini sebenarnya masih lebih baik dari proyeksi Wall Street yang memperkirakan kerugian lebih besar, yakni US$4,82 miliar dengan pendapatan US$488,8 juta. Namun tetap saja, selisih antara pemasukan dan kerugian menunjukkan bahwa ambisi metaverse masih jauh dari kata menguntungkan.

Sejak akhir 2020, Reality Labs telah mengumpulkan total kerugian operasional lebih dari US$80 miliar atau setara Rp1.360 triliun. Ini menjadi salah satu investasi paling mahal dalam sejarah industri teknologi.

Langkah besar menuju metaverse ini dimulai saat pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mengganti nama perusahaan menjadi Meta pada 2021. Perubahan ini mencerminkan visinya bahwa masa depan interaksi manusia akan berpindah ke dunia virtual.

Namun, visi tersebut sempat terganggu oleh ledakan teknologi AI generatif yang dipicu oleh kehadiran ChatGPT pada akhir 2022. Sejak saat itu, Meta dinilai tertinggal dalam perlombaan AI dibandingkan perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan Google.

Untuk mengejar ketertinggalan, Meta kini menggelontorkan investasi besar ke infrastruktur AI, model baru, serta layanan berbasis kecerdasan buatan. Di sisi lain, divisi Reality Labs justru mengalami pemangkasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebagai bagian dari strategi efisiensi, Meta melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 1.000 karyawan Reality Labs pada Januari 2026. Langkah ini dilakukan untuk mengalihkan sumber daya dari proyek virtual reality (VR) ke perangkat wearable berbasis AI.

Keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh kesuksesan tak terduga dari kacamata pintar Ray-Ban Meta yang dikembangkan bersama EssilorLuxottica. Produk ini dinilai lebih memiliki potensi pasar dibandingkan perangkat VR tradisional.

Halaman Selanjutnya

Tak berhenti di situ, Meta kembali melakukan gelombang PHK pada Maret 2026 yang berdampak pada ratusan karyawan di berbagai divisi, termasuk Reality Labs, Facebook, operasional global, rekrutmen, dan penjualan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |