VIVA –Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo mengajak masyarakat merefleksikan kondisi dunia yang masih diwarnai perang, perlombaan persenjataan dan perebutan kepentingan global. Dijelaskan Kardinal Surharyo, ancaman terbesar bagi kemanusiaan bukan hanya berasal dari kecanggihan teknologi atau senjata melainkan dari hilangnya dimensi moral dalam menggunakannya.
Untuk menggambarkan hal tersebut, ia membawakan kisah simbolik tentang empat bersaudara yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk menghidupkan seekor harimau. Alih-alih membawa manfaat, kemampuan itu justru berakhir menjadi petaka ketika harimau tersebut memangsa mereka sendiri. Kisah tersebut, menurut Kardinal Suharyo, menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat berbalik menghancurkan manusia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Dunia tetap membutuhkan suara hati," ujarnya dalam acara Bonum Commune Forum x Harmony in Diversity Pre-Event bertajuk Community Action: Grassroots Movements as Architects of Peace, baru-baru ini.
Oleh karena itu, ia menilai komunitas-komunitas kecil yang terus bekerja di tengah masyarakat memiliki peran penting sebagai penjaga nurani publik. Di tengah besarnya tantangan global, gerakan akar rumput mungkin tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi yang menjaga harapan akan perdamaian.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Maarif Institute, Andar Nubowo mengatakan keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang harus terus dirawat melalui ruang-ruang perjumpaan dan kolaborasi lintas komunitas. Menurutnya, di tengah berbagai tantangan global maupun perubahan sosial yang semakin cepat, membangun kohesi sosial menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, media digital juga perlu dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan memperluas narasi tentang pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman.
"Kita sebagai kelompok beriman harus memanfaatkan media sosial untuk menebarkan kebaikan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antar organisasi masyarakat sipil, komunitas lintas agama, lembaga pendidikan, dan generasi muda menjadi semakin penting untuk memperkuat budaya saling menghormati di tengah masyarakat. Melalui kerja bersama tersebut, keberagaman tidak hanya dipandang sebagai identitas yang berbeda, tetapi sebagai modal sosial untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis.
![]()
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara itu, Peneliti Hukum dan Konstitusi SETARA Institute, Sayidatul Insiyah, mengingatkan bahwa tantangan membangun toleransi juga masih terlihat dalam praktik kehidupan berbangsa. Berdasarkan pemantauan dan riset SETARA Institute, pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, diskriminasi terhadap kelompok minoritas, hingga hambatan pendirian rumah ibadah masih ditemukan di berbagai daerah.

8 hours ago
3











