Jakarta, VIVA – Kiprah BYD di industri otomotif Indonesia terbilang berkembang pesat dalam waktu singkat. Sejak mulai mencatatkan penjualan pada 2024, merek mobil asal China tersebut berhasil masuk ke jajaran merek dengan distribusi dan penjualan terbesar di Tanah Air.
Dilihat VIVA Otomotif dari data terbaru Gaikindo, Kamis 27 Agustus 2026, pada tahun pertamanya BYD mencatatkan wholesales sebanyak 15.429 unit. Angka itu kemudian melonjak menjadi 46.711 unit sepanjang 2025, sebelum kembali mencapai 29.826 unit hanya dalam tujuh bulan pertama 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pertumbuhan tersebut membuat total wholesales BYD sejak 2024 hingga Juli 2026 mencapai 91.966 unit. Namun, jika angka distribusi itu dibandingkan dengan data impor kendaraan, muncul selisih yang cukup menarik.
Pada 2024, BYD mengimpor 16.767 unit mobil dan mencatatkan wholesales sebanyak 15.429 unit. Artinya, pada tahun pertama penjualannya di Indonesia, jumlah impor masih lebih besar 1.338 unit dibanding kendaraan yang dikirim ke dealer.
Situasi serupa terjadi pada 2025 ketika BYD mengimpor 64.013 unit dan membukukan wholesales 46.711 unit. Selisih antara keduanya mencapai 17.302 unit, yang secara sederhana dapat menunjukkan adanya kendaraan yang belum seluruhnya tersalurkan ke jaringan dealer pada tahun tersebut.
Jika dua tahun tersebut digabung, total impor BYD mencapai 80.780 unit, sedangkan wholesales berada di angka 62.140 unit. Dengan perhitungan sederhana, terdapat selisih 18.640 unit sebelum memasuki 2026.
Namun, pola itu berubah drastis sepanjang Januari hingga Juli 2026. Data mencatat impor BYD hanya 536 unit, sementara wholesales-nya mencapai 29.826 unit dalam tujuh bulan.
Jika seluruh periode sejak 2024 hingga Juli 2026 dijumlahkan, impor BYD mencapai 81.316 unit. Sementara itu, total wholesales sudah mencapai 91.966 unit, sehingga terdapat selisih 10.650 unit lebih banyak pada angka distribusi dibanding total kendaraan yang tercatat di data impor.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Angka inilah yang menjadi tanda tanya, karena secara hitungan sederhana stok kendaraan dari impor tidak cukup untuk menjelaskan seluruh distribusi BYD hingga Juli 2026. Ditambah lagi, merek tersebut belum tercatat melakukan produksi secara lokal di data Gaikindo.
Yang menarik, pola pasokan BYD memang berubah cukup tajam pada 2026. Setelah mengimpor puluhan ribu mobil pada 2025, angka impor merek tersebut turun menjadi hanya 536 unit dalam tujuh bulan pertama 2026, sementara distribusi ke dealer tetap tinggi.
Halaman Selanjutnya
Fenomena ini membuka kemungkinan adanya perubahan dalam rantai pasokan BYD di Indonesia, termasuk peralihan bertahap dari kendaraan impor menuju perakitan lokal.

2 weeks ago
10













