Jombang, VIVA – Perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Jombang tidak hanya menjadi arena konsolidasi warga Nahdliyin. Di tengah dinamika pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), pertemuan sejumlah tokoh senior NU turut menjadi sorotan.
Salah satunya momen kedekatan Wakil Presiden ke-13 RI Kiai Ma’ruf Amin dengan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ma’ruf Amin hadir di Tebuireng untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Namun, momen tersebut juga memperlihatkan keakraban dengan Gus Kikin yang menjadi salah satu kandidat Ketua Umum PBNU.
Kedekatan kedua tokoh itu kemudian memunculkan spekulasi mengenai sikap Ma’ruf Amin dalam dinamika pemilihan Ketum PBNU. Terlebih, Gus Kikin disebut menjadi salah satu kandidat yang memperoleh dukungan dari sejumlah pengurus NU wilayah dan cabang.
Juru Bicara Tim Qanun Asasi, Abi Rekso, meminta pertemuan tersebut tidak buru-buru ditarik menjadi kesimpulan dukung-mendukung.
Menurut dia, tradisi NU memiliki ruang yang luas untuk silaturahmi dan membangun kembali suasana kekeluargaan, terlebih ketika organisasi tengah menghadapi dinamika internal.
“Ada istilah di NU, awal gegeran (keributan) diakhiri dengan ger-geran. Jadi, kalau kita lihat di Jombang Nahdliyin tumpah ruah, banyak bazar disambut suka cita seluruh warga Nahdliyin se-Indonesia," kata dia, dikutip Sabtu, 29 Agustus 2026.
Abi Rekso mengatakan hubungan Ma’ruf Amin dan Gus Kikin memang terbilang baik. Karena itu, menurut dia, wajar apabila pertemuan keduanya mendapat perhatian di tengah proses pemilihan Ketum PBNU.
Namun, dia menilai tidak setiap pertemuan tokoh harus dimaknai sebagai dukungan politik organisasi.
Menurutnya, jika Ma’ruf Amin memberikan restu kepada para kandidat, termasuk Gus Kikin, hal tersebut merupakan bagian dari hubungan antartokoh dan tidak serta-merta menjadi bentuk intervensi terhadap proses Muktamar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di sisi lain, Abi Rekso menilai Gus Kikin justru lebih menonjolkan gagasan dibandingkan kampanye personal dalam menghadapi Muktamar NU ke-35.
Dia menyebut Gus Kikin tidak berkampanye dengan memasang spanduk foto pribadi. Sebaliknya, gagasan mengenai Qanun Asasi kembali diperkenalkan sebagai salah satu pedoman penting bagi arah PBNU masa depan.
Halaman Selanjutnya
Bagi Abi Rekso, pendekatan tersebut menjadi pesan bahwa dinamika Muktamar NU seharusnya tidak berhenti pada perebutan posisi, tetapi juga membicarakan arah dan masa depan organisasi.

2 weeks ago
29













