Sabtu, 5 September 2026 - 00:05 WIB
VIVA –Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA baru-baru ini memperlihatkan potret kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan. Dalam website resmi NASA, foto tersebut diambil pada Selasa 1 September 2026 menggunakan instrument MODIS ((Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua milik lembaga antariksa AS itu.
Pada peta di sebelah kanan, setiap titik merah menunjukkan satu 'deteksi kebakaran'. Deteksi tersebut merupakan piksel berdasarkan pengamatan sensor dan algoritma yang menunjukkan adanya anomali suhu mengindikasikan kebakaran. Satu titik kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Berdasarkan penjelasan NASA, fenomena ini dipicu El Nino yang menurut NOAA sudah terdeteksi dan terus menguat sejak Agustus 2026 ditambah fase positif Indian Ocean Dipole yang turut berlangsung bersamaan. Kombinasi keduanya biasanya menekan curah hujan di Indonesia.
"Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran, tetapi kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan kondisi pada 2015. El Niño yang kuat membuat musim kemarau di wilayah Indonesia yang rawan kebakaran menjadi lebih kering dan memperparah kebakaran, persis seperti yang kami perkirakan," ujar peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, Robert Field.
Field menjelaskan pada tahun 2015, setelah lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia melepaskan emisi setara 1,75 miliar ton gas rumah kaca. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan emisi Jepang dalam satu tahun.
Sementara itu, hingga 2 September 2026, kebakaran di Indonesia yang telah berlangsung sekitar satu bulan diperkirakan menghasilkan emisi sekitar 10 persen dari jumlah yang dihasilkan kebakaran pada 2015.
Seperti pada 2015, Indonesia juga mengalami kekeringan parah dan meluas pada musim panas 2026. Berdasarkan data badan meteorologi Indonesia, sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami sedikit atau bahkan tidak mengalami hujan pada awal Agustus.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam kondisi normal, curah hujan di Kalimantan, Sumatra, dan Papua cukup tinggi sehingga api sulit menyebar melalui lapisan gambut di bawah tanah. Namun, kondisi kering memungkinkan hal tersebut terjadi.
"Kebakaran di permukaan memang tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api sudah masuk ke bawah tanah, api tidak akan berhenti begitu saja. Api akan terus membakar hingga hujan turun pada Oktober atau November," kata Field lebih lanjut.
Halaman Selanjutnya
Pemerintah Indonesia menggunakan data pengamatan NASA dan NOAA dari sensor MODIS dan VIIRS untuk memantau kebakaran aktif secara hampir real-time. Salah satunya melalui SiPongi, platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan yang menggunakan data MODIS dan VIIRS. Pada 31 Agustus 2026, SiPongi mencatat 946 titik panas.

1 week ago
9













