Pakai Skincare Approved by Beauty Vlogger Sudah Pasti Cocok dan Aman? Begini Kata Dokter

2 weeks ago 10

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:47 WIB

Jakarta, VIVA – Di era media sosial, rekomendasi skincare dari beauty vlogger atau influencer sering kali menjadi acuan utama masyarakat sebelum membeli produk perawatan kulit. Label seperti “approved by beauty vlogger A” atau viral di TikTok kerap dianggap cukup untuk membuktikan keamanan dan efektivitas suatu produk. Namun, apakah skincare yang ramai direkomendasikan di media sosial sudah pasti cocok dan aman untuk semua orang?

Dermatologist, dr. Hafiza Fikri, Sp.DVE, FINSDV, PGC, mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa popularitas sebuah produk tidak selalu sejalan dengan validitas ilmiah di dunia medis. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Public cuma tahunya approved by A, B, C. Padahal di medis sendiri ada hierarki evidence. Informasi paling atas itu misalnya systematic study, RCT (Randomized Controlled Trial) dan lain sebagainya,” ujar dr. Hafiza saat konferensi pers dalam rangka “Isispharma Dermfluencer Movement: Influence with Impact” di Jakarta, baru-baru ini. 

Menurutnya, dokter memiliki peran penting sebagai jembatan antara science dan pemahaman publik. Karena itu, edukasi mengenai skincare dan kesehatan kulit perlu disampaikan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat tanpa meninggalkan dasar ilmiah.

“Fungsi kita di sini adalah jembatan antara science dan public understanding. Sebagai jembatan tadi kita harus memberikan informasi yang benar,” katanya.

Ia mengakui masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana standar informasi kesehatan yang dapat dipercaya. Karena itu, edukasi secara konsisten dinilai menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran publik.

“Yang penting itu culture untuk mengedukasinya. Jadi sikap mendidik untuk para medis memiliki dasar, itu yang paling penting,” lanjut dr. Hafiza.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menambahkan, dunia dermatologi di Indonesia sebenarnya sudah memiliki pedoman dalam penggunaan media sosial bagi dokter. Bahkan, Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) telah mengeluarkan panduan terkait etika bermedia sosial untuk para dermfluencer atau influencer berlatar belakang dokter.

“Jadi kita juga punya community, bagaimana mengedukasi secara profesional, tetap sesuai etika profesi dan tetap menjaga kapasitasnya sebagai dokter,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya

Fenomena masifnya informasi skincare di media sosial juga menjadi perhatian berbagai pihak di industri dermatologi. Salah satunya melalui workshop “Isispharma Dermfluencer Movement: Influence with Impact” yang digelar Isispharma bersama Regenesis Indonesia.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |