Pekerja PLTA Masih Terjebak di 12 Lokasi akibat Banjir Bandang Tibet-Nepal, Tim SAR Berpacu dengan Waktu

2 weeks ago 2

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:30 WIB

VIVA – Korban tewas akibat banjir bandang di perbatasan Tibet-Nepal kembali bertambah. Hingga Senin 31 Agustus 2026, korban tewas banjir tersebut mencapai lebih dari 900 orang dan menyebabkan lebih dari 4.800 orang masih hilang. Hari ini tim penyelamat masih berupaya mencari para pekerja yang diduga terjebak di 12 lokasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA). 

Di sisi lain, sejumlah tim dari luar negeri juga turut membantu petugas penyelamat setempat untuk mencari para pekerja yang kemungkinan masih terjebak di dalam beberapa terowongan proyek pembangkit listrik di Nepal. Melansir laman AP News, Presiden Independent Power Producers Association of Nepal (IPPAN), Mohan Kumar Dangi mengatakan banjir merusak sedikitnya 12 proyek pembangkit listrik tenaga air di Distrik Rasuwa dan Nuwakot. Sekitar 919 orang dilaporkan hilang dari lokasi proyek tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelumnya, sejumlah pejabat memberikan perkiraan berbeda mengenai jumlah orang yang terjebak.

“Kami terus melakukan pencarian dan penyelamatan terhadap orang-orang yang terjebak di perbukitan, permukiman, dan kawasan sungai,” kata Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, juru bicara Angkatan Darat Nepal.

Badan penanggulangan bencana Nepal pada Senin melaporkan sebanyak 919 orang telah meninggal dunia di negara tersebut. Sementara itu, 4.800 orang masih hilang, termasuk 592 warga negara asing.

Hingga Minggu, otoritas China melaporkan 16 orang meninggal dunia dan 546 lainnya masih hilang. Media pemerintah China menyebut 261 dari mereka yang hilang merupakan warga negara asing, termasuk lebih dari 100 warga Nepal.

Pembangkit Listrik Berada di Balik Terowongan Besar, Pekerja Diduga Terjebak

Para pekerja yang sedang membersihkan lumpur dari sebuah pembangkit listrik yang rusak akibat banjir di Dhading, Nepal, mengatakan kepada The Associated Press bahwa fasilitas tersebut merupakan salah satu titik penting untuk memasok listrik kepada lebih dari 20.000 warga di wilayah tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Para pekerja yang membersihkan pembangkit listrik berharap fasilitas tersebut tidak kembali dibangun terlalu dekat dengan sungai. Upaya penyelamatan kini difokuskan pada orang-orang yang diduga terjebak di dalam terowongan berukuran besar yang dibangun untuk mengatur aliran air guna menghasilkan listrik tenaga air.

“Terowongan tersebut dibangun untuk mengakses infrastruktur pembangkit listrik tenaga air sekaligus mengalihkan aliran air. Ini merupakan tahapan penting dalam menghasilkan energi. Ukuran terowongan cukup besar bahkan untuk dilalui truk.  Di dalamnya terdapat cukup ruang bagi orang-orang untuk berlindung dengan aman. Berdasarkan informasi yang kami terima, oksigen telah berhasil dialirkan ke beberapa orang yang terjebak di dalam dan upaya penyelamatan sedang dilakukan. Namun, waktu sangat terbatas karena mereka membutuhkan makanan dan air,” kata ahli geosains dari University of Graz, Austria, yang saat ini berbasis di Dhaka, Bangladesh, Jakob Steiner.

Halaman Selanjutnya

Di proyek Upper Trishuli-1 Hydropower Project yang berada di Distrik Rasuwa, salah satu wilayah yang terdampak paling parah, sedikitnya 576 orang dilaporkan hilang, kata Dangi. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 orang diyakini terjebak di dalam terowongan proyek. Tim penyelamat telah berupaya mencari korban selamat selama beberapa hari dengan terus bekerja di tengah hujan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |