VIVA – Pengamat sepak bola Edwin Setyadinata menyoroti arah pengembangan pemain Indonesia yang dinilainya masih terlalu bergantung pada naturalisasi dan diaspora.
Dalam podcast Tiki Taka Milanesia di YouTube NLR Sports, Edwin menilai Indonesia sebenarnya memiliki talenta muda yang melimpah, tetapi belum digarap secara serius dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut Edwin, naturalisasi dan diaspora seharusnya hanya menjadi pelengkap untuk mempercepat peningkatan kualitas Timnas Indonesia, bukan fondasi utama. Ia menilai ketergantungan terhadap pemain keturunan dapat menjadi persoalan ketika performa pemain menurun atau mereka tidak lagi mendapatkan menit bermain reguler di klub.
Jepang vs Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Photo :
- (Yu Matsuda/Kyodo News via AP)
“Naturalisasi diaspora itu bukan pondasi utama Timnas, bukan juga masa depan Timnas. Itu hanya pelengkap sebagai percepatan akselerasi untuk Timnas,” ujar Edwin dalam podcast tersebut, dikutip Selasa 25 Agustus 2026.
“Sejago-jagonya pemain diaspora itu, itu kan mereka manusia. Mereka tuh bisa performanya menurun,” katanya.
Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan negara yang memiliki kolam pemain berkualitas lebih besar. Edwin mencontohkan Jepang yang tetap dapat memilih pemain terbaik untuk Timnas karena memiliki banyak alternatif, termasuk dari kompetisi domestik.
Sementara itu, Indonesia dinilai masih menghadapi persoalan dalam pengembangan talenta usia muda. Edwin menyebut banyak pemain berbakat di berbagai daerah yang kesulitan mendapatkan jalur kompetisi dan pembinaan berkelanjutan.
“Jadi kita ada masalah di pengembangan pemain. Tidak diseriusin dari dulu,” ujar Edwin.
Menurut dia, perhatian tidak seharusnya hanya tertuju pada Timnas senior. Pengembangan pemain harus dimulai dari level usia muda dengan kompetisi yang berkesinambungan sehingga jumlah pemain berkualitas terus bertambah.
Edwin juga menilai keberadaan kompetisi usia muda seperti Elite Pro Academy (EPA) belum cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Menurutnya, pembinaan perlu diperluas hingga kelompok usia yang lebih muda agar proses pencarian dan pengembangan bakat berjalan lebih panjang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia menegaskan bahwa Timnas merupakan produk akhir dari sebuah piramida sepak bola. Karena itu, fondasi di bawahnya, yang mencakup pembinaan dan kompetisi usia muda, harus diperkuat terlebih dahulu.
“Timnas itu produk akhir,” kata Edwin.
Halaman Selanjutnya
Dia menilai Indonesia memiliki jumlah talenta yang besar, tetapi potensi tersebut belum sepenuhnya mendapatkan ruang untuk berkembang.

52 minutes ago
1
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310865/original/081850900_1785378315-cropped-2d7f636b-2380-40cc-a881-ea61c56069f5.jpg)

