VIVA – Konflik Thailand-Kamboja ternyata tidak hanya menjadi persoalan dua negara bertetangga. Ketegangan tersebut juga menguji hubungan China dengan Kamboja yang selama ini dikenal sangat dekat. Beijing memiliki hubungan politik, ekonomi dan pertahanan yang erat dengan Phnom Penh.
Namun, ketika kepentingan Kamboja berbenturan dengan kepentingan China yang lebih luas, posisi Beijing menjadi jauh lebih rumit.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hal tersebut diungkap analis Channtha So dalam analisisnya mengenai hubungan China dan Kamboja. Menurutnya, sikap Beijing selama konflik menunjukkan bahwa hubungan yang disebut sebagai “persahabatan yang kokoh” tidak otomatis membuat China berpihak kepada Phnom Penh.
Konflik Thailand-Kamboja kembali pecah pada 24 Juli 2025 melalui serangan artileri, roket dan udara di sepanjang perbatasan. Pertempuran kembali terjadi pada Desember sebelum kedua negara menyepakati gencatan senjata pada 27 Desember.
Di tengah eskalasi tersebut, China tidak mendukung klaim teritorial Kamboja maupun mengecam Thailand. Beijing justru mendorong kedua negara menahan diri dan mendukung upaya diplomasi yang dipimpin ASEAN.
“China tidak meninggalkan Kamboja dan tidak membiarkan persahabatan menentukan kepentingannya. China mempertahankan hubungan politik dan militer dengan kedua belah pihak, dan biaya yang lebih tinggi yang harus ditanggung Thailand membuat China sulit memprioritaskan Phnom Penh,” ungkapnya sebagaimana dikutip Viva dari keterangannya, Rabu, 26 Agustus 2026.
Sikap tersebut bukan berarti hubungan China dan Kamboja melemah. Beijing justru memperdalam kerja sama bilateral. Pada April 2026, kedua negara menggelar dialog “2+2” pertama yang melibatkan menteri luar negeri dan pertahanan. Pada Juni, Xi Jinping juga menawarkan kemitraan keamanan bilateral kepada Phnom Penh.
Namun, China tetap memiliki kepentingan besar di Thailand. Salah satu yang paling mencolok adalah hubungan perdagangan kedua negara.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pada 2025, nilai perdagangan China dan Thailand mencapai sekitar US$147,3 miliar. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan perdagangan China dan Kamboja yang hanya sekitar US$19,73 miliar.
“Jelas bahwa ekonomi Thailand lebih dari 11 kali lebih besar daripada ekonomi Kamboja pada tahun 2025, menurut data Bank Dunia. Ukuran pasar merupakan bagian dari perbedaan perdagangan. Tetapi ini tidak menghilangkan hierarki tersebut, ukuran pasar adalah salah satu hal yang mendasarinya.”
Halaman Selanjutnya
Thailand juga memiliki jaringan manufaktur yang maju, pasar domestik yang besar dan posisi strategis di sejumlah koridor transportasi utama Asia Tenggara. Karena itu, gangguan hubungan dengan Bangkok berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap bisnis dan rantai pasokan China.

2 weeks ago
11













